***PERJALAN JIWA MENCARI CINTA***

Sabtu, 08 Januari 2011.
Posted by Hikmah Sepanjang Masa On Sunday, 26 September 2010

mencari cahaya.jpgMalam itu begitu indah nan damai, kecerahan langit bertabur bintang laksana perhiasan berbalut dengan keindahan permata safir, Liukan pohon lebat dan dedaunan seirama diterpa angin serta batang pohon yang kokoh berdiri tegak. Didalam istana yang mungil serta dalam renungan kegelapan itu seorang gadis beranjak dewasa dengan keteguhan serta kecintaannya itu memberanikan menulis untaian kata yang sangat memilukan, dialah "Nurul Lailatul Fauziah" yang terlahir 18 tahun yang lalu dari rahim seorang ibu bernama "Hj. Malichah" dan ayahnya bernama "Prof. H. Muhammad Heru Sudjiharnanto" seorang professor ahli ilmu dalam bidang Ketuhanan.

Walaupun Jalan yang terjal, tajam dan berliku tetap ia ditempuh untuk mencari kebenaran serta menemukan cahaya menuju keabadian yang hakiki. Rasa sakit serta rindu dan cinta akan ketentraman jiwa yang begitu dasyat dan hebat begitu saja membuncah melukiskan kerinduan di relung hati yang paling dalam, berharap "Sang Terkasih" memberi setitik cahaya didalam palung hati yang terdalam walau hanya setitik telah tersimpan cinta dan rindu kepada yang dikasih.


Betapa anggun nan elok jika cahaya abadi itu datang membawa secercah harapan untuk bangkit dari jurang kenistaan. Hanya buliran serta linangan air mata yang patut ia persembahkan kepada “Sang Terkasih”. semoga karya agung ini tidak lekang oleh lekatnya zaman serta menuntun kita untuk menemukan sebuah secercah cahaya harapan keabadian.




Perjalanan Jiwa Mencari Cahaya

Aku adalah kegelapan

sendiri dalam gelap

Berlari dan berlari terus mencari secercah cahaya

Yang sanggup menerangi ruang hati ini

Jalan yang terjal, tajam dan berliku

Biarlah kutempuh

Walau terasa sakit

Sakit di jiwa dan ragaku, aku tak peduli

Karena aku seorang hamba yang tiada arti

Terus kuberlalu mencari kebenaran yang hakiki

Hingga jalanku terseok - seok, kakiku pincang mataku buta

Tanganku buntung, telingaku tuli

Biarlah semua itu aku tak peduli

karena aku hamba yang tiada arti

Walau sakit dan perih aku tetap tak peduli

Asalkan aku bisa menemukan cahaya itu

Cahaya menuju keabadian yang hakiki

Yaa Robbi...

Wahai Tuhanku

Tunjukkan aku jalan lurusmu

Karena bagiku

Seteguk rahmatMu akan menghapus dahaga jiwa yang kering ini

Secercah hidayahMu menetapkan imanku

Namun...hatiku yang pincang

Hingga aku tak kuasa berjalan dijalan - Mu

Hatiku buta... yaa Robbi

Hingga aku tak bisa merasakan indahnya ma'rifat kepada- Mu

Hatiku buntung... Hancur…

Dalam berdoa pun aku tak bisa menengadahkan kekhusuan dan Ketulusan

Hatiku tuli… Pekak…

Hingga aku tak bisa mendengar arah dimana petunjukMu Menuntunku

Duhai Rosululloh…..

Yaa Sayyidii... Yaa Rosululloh...

Aku umatmu yang tiada arti

Hatiku buta sehingga semua menjadi gelap

Kuyakin engkau mendengar rintihan hati ini

Kuyakin engkau merasakan kepedihan hati

Perihnya jiwa jika jauh dari sang Pencipta alam raya

Atas seizin Allah,

Angkatlah kami Yaa Rosulullah, dari jurang jahiliyah ini

Walau kami tahu, betapa kotornya diri ini

Betapa hina - dina- papah terluka

karena maksiat yang berlarut - larut

Namun,setetes syafaatmu yaa Rosul

Adalah penghapus segala gundah dan resah

Setitik air mata darimu yaa Rosul

Adalah embun ditengah padang yang gersang

Yaa Ayyuhal Ghoutsu...

Bimbing...bimbing dan didiklah kami

Hingga kami menjadi manusia yang berjiwa manusia

Manusia yang sebenarnya bukan imitasi belaka

Kuyakin , engkau merasakan sakit yang kurasakan

Engkau turut prihatin pada diri ini, jiwa yang buta ini

Maka tolonglah kami

Arahkan pancaran Nadroh, radiasi batin pada jiwa yang hina ini

Sehingga aku bisa bangkit dari kehancuran yang berlarut - larut ini

Bangkit dari kedholiman dan kekufuran

Sejauh ini telah kulihat cahaya itu

Namun begitu sulit untuk meraihnya, karena aku tiada daya

Ya Sayyidi…..Yaa Rosululloh...

Yaa Ayyuhal Ghoutsu...

Kami memang bukanlah orang yang mulia

Kami tidaklah pantas mendekat kepada engkau, apalagi mencintaiMu

Namun bagaimanapun juga

Seperti apapun diri ini

Sehina dan sehancur apapun diri ini

Dan sebesar apapun dosa dan kerendahan kami

Namun kami tak bisa ingkari

Dalam palung hati yang terdalam walau hanya setitik

Kumasih mengharap setitik kasih sayangMu Yaa Alloh…

Kujulurkan lidahku walaupun bagaikan anjing yang kelaparan dan kehausan

Kunanti setetes syafaat dan nadrohMu

Yaa Rosululloh.. Yaa Ghoutsi hadzazaman…

Tengoklah kami

Walau aku bukan manusia lagi

Namun, rasa sakit ini

Rindu dan cinta akan ketentraman jiwa

Dalam naungan agama dan perjuangan yang suci nn mulia ini

Pastilah terobati.

(Hamba yang Lemah dan Hina)

Nurul Lailatul Fauziah

1 Comentário:

Anonim mengatakan...

benar tu..

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

SMS GRATIS

Make Widget
 
MINAK JINGGO © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |