0

Mengapa Allah Swt Mencintai Orang-orang Yang Sabar

Senin, 17 Januari 2011.

Allah SwT berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS Ali Imran [3] ayat 146)
Seseorang hanya dapat menjadi betul-betul sabar, jika ia memahami makna dan sifat kesabaran. Kesabaran melenyapkan esensi waktu. Jadi, akar kesabaran berada di alam keabadian.
Jika seseorang ingin mengambil buah dari sebatang pohon, namun ia menyadari bahwa buahnya itu belum matang, maka ia akan mengekang nafsunya hingga buah itu masak.
Istilah Arab untuk kesabaran adalah shabr, yang berasal dari akar kata yang berarti mengekang atau menahan. Kesabaran menghubungkan waktu pengalaman dengan titik mutlak di luar jangkauan waktu. Kesabaran membuat makna dan relativitas waktu menjadi jelas.
Abu Basir mengatakan, “Aku mendengar dari Imam Shadiq as mengatakan, ‘Seorang yang merdeka adalah orang yang merdeka dalam segala keadaan. Bila dia dalam kesulitan dia sabar, segala bencana tidak membuatnya berubah meskipun dia di penjarakan, dikalahkan, dan dibuat susah. Sebab, penjara dan perbudakan tidak mengurangi kehormatan Yusuf as. Kegelapan dan ketakutan dalam sumur tidak dapat melenyapkannya sampai Allah menjadikannya rasul-Nya dan mengasihani bangsa itu lantaran dia. Kesabaran dan ketabahan adalah seperti ini. Ia senantiasa menghasilkan kebaikan. Karena itu, bersabar dan tabahlah agar mendapat pahalanya”
Kunci kesabaran adalah pengetahuan yang lebih tinggi; jika pengetahuan dicapai, maka seseorang itu akan menjadi teguh. Ketika menggambarkan perjalanan spiritual Nabi Musa, Alquran mengungkapkan, “Bagaimana engkau bisa bersabar terhadap sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya” (Q.S. 18: 68).
Kata pengetahuan dalam ayat ini mempunyai maksud sebagai kondisi penciptaan sesungguhnya. Pengetahuan seringkali dirangsang oleh kondisi dan peristiwa eksternal.
Kesabaran tidak semata-mata pasrah total terhadap segala keadaan yang menimpanya; hanya orang bodoh saja yang berbuat seperti ini. Kesabaran harus datang dengan pengetahuan tentang penyebab dari suatu situasi itu, dan langkah-langkah apa yang harus diambil untuk menghadapi akibat negatif dari situasi tersebut. Ini akan menghasilkan keadilan dan keseimbangan (mizan).
Hidup dengan kesabaran, dijaga oleh kesabaran, serta mampu merasakan kebahagiaan yang datang dari kesabaran seperti yang diungkapkan di atas, hanya dapat dicapai oleh orang mukmin.
Sabar dan salat menghubungkan seseorang dengan kasih sayang tak berbatas yang membuat kaum mukmin menjadi lebih menyadari bahwa Allah memang bersama orang-orang yang sabar.
Ini artinya, kaum mukmin mengikuti firman Allah, waspada benar-benar, serta di saat yang sama, mampu melakukan tindakan yang tepat ketika diperlukan.
Pada kondisi semacam itu, syahadat dan tindakan menyatu tanpa adanya gesekan. Pada kondisi itu, sang hamba telah memuliakan Tuhannya. Sang hamba mampu menembus waktu hingga ia dapat dekat dengan Dia yang Mendahului Waktu, Dia yang menjaga waktu, Dia yang akan tetap ada setelah waktu dan di luar waktu: Allah Sang Realitas Abadi. (Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir Surat al-Baqarah ayat 153)
Imam Shadiq berkata, “Setiap Mukmin yang bersabar menanggung penderitaan, mendapatkan pahala seribu syuhada.”
Amirul Mukminin diriwayatkan telah mengatakan, “Seorang Muslim menjadi sempurna melalui tiga kebaikan : berjuang demi iman dan agama, sederhana dalam gaya hidup, dan sabar dalam kesulitan.”
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, “Hai manusia, bersabarlah menanggung derita. Sesungguhnya orang yang tidak mempunyai kesabaran, maka dia juga tidak mempunyai agama.”
Kesabaran para Nabi dan Rasul menghadapi para pembangkangnya adalah bukti dari cinta yang terinspirasi dari Tuhan.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah…
Leia Mais...
0

Iman itu Cinta & Benci





Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Iman itu adalah cinta dan benci” ~ Bihar al-Anwar 78 : 175

STUDI yang menyeluruh terhadap al-Qur’an dan Hadits akan memperlihatkan suatu pandangan Islam tentang cinta yang bersifat Ilahiyyah maupun yang bersifat humanis, yang memiliki kemuliaan dan nilai-nilai yang tinggi.
Di dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain diriwayatkan bahwa Imam Muhammad al-Baqir as telah berkata, “…agama itu adalah cinta dan sebaliknya cinta itu adalah agama” [38]
Cinta memiliki tingkatan-tingkatan yang bergantung pada kelayakkan atau kesiapan seseorang untuk menerimanya. Dengan kata lain tingkatan ruhani seseorang bergantung dari kesiapan atau kelayakkannya untuk memperoleh cinta. Hal ini bisa dicontohkan, jika sebuah keadilan layak untuk dicintai maka ketidakadilan menjadi tidak layak untuk dicintai. Atau contoh lainnya, jika seorang jujur layak untuk dicintai, maka seorang pendusta tentu saja tidak pantas untuk dicintai atau bahkan kita pantas membencinya!. Seseorang bisa saja berdo’a untuk suatu yang bermanfaat bagi orang yang dicintainya.
Diriwayatkan Imam al-Shadiq as pernah berkata, “Merupakan tabiat hati (manusia) mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat buruk kepadanya” [39]
Suatu waktu ditanyakan kepada Aba Abdillah (al-Shadiq) as tentang cinta dan benci, apakah ia merupakan bagian dari iman. Imam as menjawab,”Bukankah iman itu tidak lain adalah cinta dan benci?” Lalu Imam as membacakan ayat (QS 49 : 7) :
“…tetapi Allah menjadikan kami cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada keingkaran dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus!” [40]
Kita akan semakin memahami konsep ini lebih jauh jika kita mencoba untuk menyimak perkataan Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib as, “Teman-temanmu ada tiga dan musuh-musuhmu juga ada tiga. Adapun teman-temanmu ialah temanmu sendiri, teman dari temanmu dan musuh dari musuhmu. Sedangkan musuh-musuhmu ialah musuhmu sendiri, musuh temanmu dan teman musuhmu” [41]
MUNGKINKAH KITA BISA MENCINTAI SAHABAT KITA, DAN PADA SAAT YANG SAMA MENCINTAI MUSUH SAHABAT KITA?
Kita menyadari bahwa adalah tidak mungkin kita bersahabat dengan musuh dari sahabat kita. Perbuatan kita seperti itu bisa menggelincirkan kita ke bentuk pengkhianatan. Dan contoh yang nyata adalah apa yang telah dilakukan pemerintahan Mesir, Saudi Arabia dan Yordania. Mereka mengaku prihatin terhadap bangsa Palestina di Gaza tetapi di sisi lain mereka mematuhi semua yang diinginkan musuh Islam, yaitu Zionis Israel. Bukankah sikap seperti ini bukti kemunafikan yang sangat terang benderang?.
Cobalah Anda meneropong ke lubuk hati Anda yang terdalam, apakah hati Anda tidak merasakan kegelisahan, ketika Anda berteman dengan teman Anda dan pada saat yang bersamaan Anda pun berteman dengan musuh teman Anda? Jika hati Anda tidak merasakan kegelisahan maka bisa jadi Anda adalah seorang hipokrit alias munafik.
Di dalam perbandingan dengan keyakinan-keyakinan agama lain, ada satu aspek cinta di dalam Islam yang senantiasa mempertimbangkan bentuk kebencian yang merupakan bagian dari cinta itu sendiri. Islam bahkan mengajarkan kepada kaum Muslim untuk mencintai manusia dan menyayangi mereka dan menjalin hubungan dengan mereka walau pun mereka tidak percaya kepada Islam atau bahkan kepada Tuhan sekali pun.
Seseorang bisa saja memiliki banyak teman yang mencintainya, dan pada saat yang sama ada orang yang membencinya; apakah ia mengingini atau tidak. Kita tahu bahwa banyak orang-orang baik di dalam masyarakat kita, tetapi tidak dapat pula dipungkiri bahwa tidak sedikit orang-orang yang berkarakter buruk ada di sana. Ada dua kutub yang saling menarik dan saling menolak. Orang-orang baik menarik orang-orang yang sejenisnya, dan menolak orang yang berkarakter buruk dan begitu pun sebaliknya.
Alasan kemiripan dan keserupaan inilah yang menjadi landasan cinta dan kasih sayang antar manusia. [43]
Bagaimana pun, tidaklah mungkin bagi seseorang yang memiliki prinsip di dalam hidupnya dan mengabdikan hidupnya untuk menyadari nilai-nilai suci untuk acuh tidak acuh terhadap orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan amoral, atau melakukan kejahatan di tengah-tengah masyarakat.
Fudlail bin Yasar bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Imam Ja’far) as, tentang cinta dan benci, dari bagian iman yang manakah keduanya itu? Imam as menjawab, “Bukankah iman itu tidak lain cinta dan benci?!” [44]
Ada suatu kecenderungan pada sebagian orang yang berpandangan dan bersikap tanpa kebencian sedikit pun. Orang-orang ini menganggap pemikiran dan pola pandang seperti ini adalah benar dan mulia, sehingga mereka menganggap semua orang adalah sahabat dan teman-teman mereka, tak terkecuali penjahat masyarakat sekali pun.
Sebaliknya Islam mengajarkan kepada manusia untuk mencintai dan menyayangi manusia seluruhnya secara umum, namun dalam saat yang sama tidak mentolerir orang-orang yang melakukan tindakan-indakan amoral atau bahkan kejahatan sosial, seperti yang dilakukan oleh para koruptor, manipulator, bahkan para penindas.
Kita tidak bisa mentolerir apa yang telah dilakukan oleh Hitler dengan Nazinya dan pada saat yang sama kita acuh tak acuh terhadap apa yang dilakukan oleh presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang dengan tentara sekutunya meluluh-lantakkan negara orang lain, Afghanistan maupun Irak. Sikap macam apa yang seperti ini?
Karena itu pula saya merasa ada keganjilan atas sikap orang2 Islam formalis yang berpawai/berdemo keliling kota meneriakkan anti-Zionis Israel tapi pada saat yang sama menerima kebengisan Obama. Sikap macam apa ini?
Apakah fitrah dan hati nurani kita bisa mencintai tentara-tentara Zionis Israel yang membantai orang-orang Palestina dan pada waktu yang sama pula kita menyayangi orang-orang Palestina yang tertindas itu? Tentu saja tidak!
Oleh karena itu Islam bukan hanya agama cinta, tetapi pada saat yang sama adalah agama benci!
Rasulullah saww bersabda kepada para sahabatnya, “Tiang iman yang mana yang paling kokoh?” Mereka para sahabat menjawab,“Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu” Sebagian dari mereka berkata,”Shalat!”
Sebagian lain menjawab,“Puasa!”
Sebagian lainnya menjawab,“Haji dan Umrah!”
Dan sebagian lainnya menjawab,“Jihad!”

Namun Rasul saww menjawab, “Seluruh jawaban yang kamu sebutkan memiliki keistimewaan. Namun jawaban yang tepat bukanlah itu. Karena tiang iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, berwali kepada para wali Allah (tawalla) dan berlepas diri dari para musuh Allah (tabarra’)” 45]
Oleh karena itu pula Islam memerintahkan juga kepada kita untuk menjauhi orang-orang alim yang menjual murah ayat-ayat suci, mereka yang telah dibeli oleh dajjal-dajjal dan merelakan dirinya menjadi pesan sponsor para penindas dan kaum mustakbarin. Tentu saja Anda yang berhati bersih tidak bisa bersimpati dan mencintai orang-orang seperti ini.
Rasulullah saww telah bersabda,”Wahai hamba Allah! Cintailah (seseorang) karena Allah, dan bencilah karena-Nya. Tolonglah (seseorang) karena Allah dan perangilah karena-Nya. Sesungguhnya seseorang tidak bakal mendapatkan pertolongan Allah kecuali dengan melakukannya. Dan seseorang tidak akan mengenyam rasa keimanan kendati shalat dan puasanya bertumpuk hingga ia berbuat demikian…” [46]
Laa hawla wa laa quwwata illa billah…tiada daya & kekuatan kecuali hanya karena pertolongan Allah jua…
Leia Mais...
0

Cinta Meluluhkan Kebencian & Prasangka

 


“…dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (Al-Qur’an, Surah Al-Maaidah ayat : 8)
“The hatred you’re carrying is a live coal in your heart – far more damaging to yourself than to them.”- “Kebencian yang Anda bawa, seumpama sebuah batu bara yang ada dalam hati Anda – yang jauh lebih merusak diri Anda sendiri ketimbang mereka (yang Anda benci)” ~ Lawana Blackwell
Suatu waktu seorang laki-laki dari Syam (Suriah) diupah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan untuk mencaci-maki Keluarga Rasulullah saww. Di Madinah, lelaki ini berjumpa dengan Imam Hasan as (putera Imam Ali dan Fathimah & cucu Nabi Muhammad Saw) dan langsung saja ia mencerca dan mengutuk beliau. Imam Hasan tidak marah, bahkan ia menunggu sampai lelaki itu menyelesaikan “hajatnya”.
Setelah lelaki Syam ini selesai dan puas mengutuk beliau, Imam Hasan menyapanya sambil tersenyum :
“Anda pasti bukan orang sini. Apakah Anda tersesat? Jika Anda butuh pertolongan, mari saya tolong.
Jika Anda butuh sesuatu, akan saya beri.
Jika Anda butuh petunjuk ke suatu tempat, mari saya tunjukkan,
Jika Anda butuh orang untuk membawakan barang-barang Anda, mari saya bawakan.
Jika Anda lapar, mari bersama saya makan bersama.
Jika Anda butuh pakaian, nanti saya akan beri.
Jika Anda diusir dari kampung halaman Anda, mari saya carikan tempat tinggal.
Jika Anda punya keperluan-keperluan, mari saya penuhi semua kebutuhan Anda dan
Jika Anda berada dalam perjalanan, tinggallah bersama saya untuk menjadi tamu saya, nanti akan saya beri Anda bekal….”
Setelah mendengar tawaran Imam Hasan yang sangat simpatik itu, lelaki dari Syam itu menangis seraya berkata, “Saya bersaksi bahwa Tuan adalah khalifah Allah di muka bumi ini. Allah Mahatahu bahwa sebelum ini, tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya benci dan sekarang tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya cintai di antara seluruh manusia di dunia ini!” (*)
Imam Hasan as, cucu Rasulullah saww ini, tidak segera marah ketika ia dicerca dan dikutuk sedemikian rupa. Pertama-tama ia berkata, “Pasti Anda bukan orang sini!”. Dengan demikian Imam Hasan mengawali pandangannya terhadap lelaki Syam ini dengan prasangka baiknya, bahwa beliau meyakini si lelaki malang ini bukan penduduk Madinah sehingga ia tiada mengenal Imam Hasan yang sesungguhnya.
Provokasi Mu’awiyyah terhadap penduduk Syam telah membentuk pandangan kebencian terhadap Ahlul Bait Rasulullah, namun sikap santun dan simpatik dari Imam Hasan mengubah pola pikir dan pandangannya tentang Ahlul Bait.
Hal seperti ini pun terjadi pada kita semua. Kita sering mengecam dan mencela seseorang atau suatu kelompok yang hanya kita ketahui dari musuh-musuh mereka, bukan dari orang yang kita kecam itu sendiri.
Informasi yang terdistorsi telah merusak pandangan kita yang jernih. Ketelitian dan kejujuran kita untuk mengamati pandangan orang lain sangatlah diperlukan.
Rumi bersyair :
Siapa menabur benih duri di dunia ini,
Waspadalah! Jangan mencarinya
di kebun mawar!
(**)
Asumsi-asumsi serta prasangka-prasangka yang tak beralasan mesti disingkirkan dari benak pikiran kita.
“Hatred is settled anger” – “Kebencian dimantapkan dengan kemarahan” ~ Marcus Tullius Cicero
Allahumma shallii ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad…Ya Allah taburkanlah senantiasa kepada kami berkah cintaMu, cinta MuhammadMu, dan Ahlul-bayt RasulMu…amiin..
____________________
(*) Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul Bait, Imam Hasan as, Pustaka Hidayah
(**) Matsnawi II:153)
Leia Mais...
0

Dua Orang Penyebab Kehancuran Umat





Imam Ali as berkata :
“Patahlah punggungku disebabkan oleh dua orang lelaki di dunia ini.
Yang seorang adalah lelaki yang alim (pandai) di lisan tetapi fasiq (di hatinya).
Yang seorang lagi adalah lelaki yang jahil hatinya (akalnya) walaupun banyak beribadah.
Yang pertama menutupi kefasikannya dengan lisannya.
Yang kedua menutupi kebodohannya dengan ibadahnya.
Karena itu waspadalah kalian atas orang yang fasik dari kalangan para alim dan orang jahil dari kalangan orang-orang yang gemar beribadah. Mereka itu adalah salah satu FITNAH dari setiap fitnah, karena aku (Imam Ali as) mendengar Rasulullah saww bersabda : “Wahai Ali, Salah satu sebab KEHANCURAN atas umatku adalah disebabkan oleh tangan orang munafik yang hanya pandai bicara.” (Kitab al-Khishal 1 : 69)
Leia Mais...
0

Sekadar Bencana Alam Ataukah Murka Allah







bencana.jpg
Kaum spiritualis percaya bahwa ALAM ini adalah SAUDARA BERSAR manusia. Istilah kerennya adalah Makrokosmos sedangkan manusia adalah Mikrokosmosnya. Hubungan keduanya adalah hubungan yang tak dapat dipisahkan, karena keduanya saling mempengaruhi, baik langsung maupun tidak langsung. Perbuatan-perbuatan manusia yang baik berpengaruh langsung pada Alam serta lingkungannya.
Sebaliknya jika manusia kerap berbuat hal-hal yang buruk dan keji maka Alam pun menjadi “murka”. Kemurkaan Alam tersebut dikarenakan banyaknya pengaruh kejahatan dan kekejian yang secara langsung maupun tidak langsung merusak tatanan alam. Ketamakan dan keserakahan manusia menjadikan manusia tiada peduli akan keseimbangan alam. Kebanyakan manusia hanya memikirkan keuntungan sebesar-besarnya dan mengeksploitasi alam tanpa batas.
Hanya memikirkan kepentingan ego pribadinya, golongan atau partainya. Akibatnya terjadilah apa yang disebut bencana alam, seperti kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, gempa dan gunung meletus.
Masih banyak orang yang menganggap bahwa bencana alam seperti itu tidak ada hubungannya dengan perbuatan manusia. Padahal dengan tegas dan lugas Allah SwT berfirman, “Telah tampak kerusakkan (al-fasad) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (QS Al-Ruum [30] ayat 41)
Menurut al-Raghib, fasad mengandung arti “terjadinya ketidakseimbangan atau ketidak harmonisan” [Al-Raghib al-Isfahani : 379]
Al-fasad di dalam ayat tersebut menurut Allamah Thabathaba’i berkonotasi umum. [Thabathaba’i 16: 205-206]. Yaitu fasad yang mencakup semua bentuk kerusakan berupa hilangnya tatanan yang baik di dunia ini, baik yang dikaitkan dengan kehendak manusia maupun yang tidak. Misalnya gempa, kemarau, banjir, wabah penyakit, perang, perampokan dan segala bentuk yang mengganggu ketentraman kehidupan manusia.
Segala kejadian seperti itu termasuk peristiwa-peristiwa alam dianggap sebagai akibat ulah manusia. Baik langsung maupun tidak langsung manusialah yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi kejadian-kejadian seperti itu sebagai pertanda murka Allah terhadap manusia yang larut dalam kemungkaran. Sebagaimana penegasan al-Quran, ”Andaikata kebenaran (al-haq) itu menuruti hawa nafsu mereka pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya” (QS 23 : 71).
Seandainya manusia menjadikan hawanafsu sebagai tolok ukur kebenaran maka pastilah hancur binasa seluruh tatanan alam semesta ini. Sebaliknya al-Quran pun memandang bahwa keutuhan tatanan alam semesta ini pun berkaitan erat dengan ulah dan tingkah laku manusia. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS 7 : 96)
Imam Ja’far ash-Shadiq as juga mengatakan, “Tidaklah kesusahan, musibah dan penyakit yang menimpa seseorang melainkan karena dosa. Karena itulah Allah SwT berfirman : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS 42 : 30) (Bihar al-Anwar 73 : 315)
MENGAPA KALIAN MEMBIARKAN MEREKA MELUBANGI KAPAL
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat yang saling menopang satu dengan lainnya. Kehidupan mereka yang berada di dalam suatu lingkungan diibaratkan oleh Baginda Rasul Saw dengan indahnya bak berada di dalam sebuah bahtera di tengah laut lepas.
Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang melanggar larangan-larangan Allah dan orang-orang yang menaatinya adalah ibarat satu kaum yang bersama-sama naik ke sebuah kapal layar. Sebagian mereka berada di atas dan sebagian lagi berada di bawah (dek). Bila orang-orang yang berada di bagian bawah ingin mengambil air, maka mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu orang-orang yang berada di bagian bawah mengatakan,”Kita lubangi saja lambung kapal ini agar kita memperoleh air tanpa harus menyusahkan orang-orang yang di atas kita”. Jika mereka dibiarkan melakukan niat mereka, maka semua orang yang berada di kapal tersebut pasti celaka. Tetapi jika mereka dicegah, maka orang-orang itu bisa selamat dan selamat pula seluruh penumpang kapal itu!” (Shahih Bukhari dan Tirmidzi)
Penyebab terjadinya bencana longsor di berbagai pelosok negeri kita ini antara lain sama seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Saw di atas. Sebagian masyarakat di dalam suatu lingkungan tertentu tidak mencegah sebagian masyarakat lainnya yang melakukan penebangan liar atas hutan-hutan yang berada di sekitar mereka. Kekejian dan ketamakan yang telah memabukkan sebagian masyarakat menjadikan mereka sedemikian lupa diri dan dengan sewenang-wenang mereka “menzalimi” alam (hutan), dengan membabat habis pepohonan yang sebenarnya merupakan pelindung bagi manusia itu sendiri.
Ketika semua ini telah jauh melampaui batas, maka alam pun mengamuk murka atas perbuatan zalim saudara kecilnya yang tak tahu diri ini. Sebagian masyarakat yang tidak melakukan penebangan liar pun akhirnya menjadi korban amuk murka alam. Hal ini sama seperti para penumpang kapal yang tidak mau peduli atas apa yang dilakukan penumpang lainnya yang melubangi lambung kapal demi kepentingan mereka sendiri tanpa menghiraukan bencana yang bakal terjadi akibat perbuatan bodoh yang mereka lakukan.
MENJADIKAN NAFSU SEBAGAI TOLOK UKUR KEBENARAN
Salah satu dosa besar yang paling berpengaruh buruk terhadap Alam adalah jika hawa nafsu menjadi tolok ukur kebenaran. Jika manusia sudah lebih mengedapankan nafsu di atas segala-galanya maka seluruh tatanan alam semesta ini akan rusak binasa seperti yang dikatakan di dalam Al-Qur’an, “Andaikata kebenaran (al-Haq) itu menuruti hawa nafsu maka pasti rusak binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya” (QS 23 : 71)
Yang dimaksud dengan kebenaran mengikuti hawa nafsu adalah apabila orang-orang yang selama ini dianggap sebagai acuan kebenaran telah tunduk kepada hawa nafsu. Dengan kata lain para pemimpin agama telah tunduk kepada hawa nafsu mereka. Mereka tidak peduli atas apa yang terjadi pada lingkungan mereka.
Mereka lebih takut kepada mafia-mafia atau pengusaha-pengusaha busuk ketimbang Tuhan. Bahkan sebagian mereka pun menerima suap dari mafia-mafia ini agar mereka tidak mencegah apa yang akan mereka lakukan terhadap alam lingkungan yang semestinya dilindungi. Jika pihak pemerintah (umara’) dan ulama diam tak mau peduli atas apa yang dilakukan mafia-mafia hutan ini maka masyarakat pun tidak lagi mempunyai ‘bemper’ dari tindak kejahatan yang dilakukan para mafia hutan ini.
Jika hal ini terjadi maka pastilah seluruh tatanan Alam ini akan rusak binasa dan porak-poranda! Kebakaran hutan, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, banjir dan bencana-bencana lainnya pun terjadi silih berganti.
TAMAK DAN SERAKAH SUMBER KEHANCURAN
Nabi saww bersabda, “Sekiranya Anak Adam mempunyai sebuah lembah emas , niscaya dia akan meminta tambah satu lagi. Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah emas, niscaya dia akan meminta lagi. Tidak akan puas kantong mulut seseorang kecuali jika sudah penuh dengan tanah” (Jami’ ash-Shaghir lis Suyuthi)
Manusia jika sudah terjerat penyakit tamak, ia akan kesulitan untuk melepaskan diri darinya. Imam al-Baqir as berkata, “Orang yang rakus pada dunia bagaikan ulat sutera. Kian bertambah banyak suteranya kian jauh kemungkinannya untuk bisa keluar dari sarangnya. Sampai akhirnya dia mati (terjerat suteranya sendiri)” (Bihar al-Anwar 73 : 23)
Dia akan berubah menjadi monster yang mengerikan, yang siap melahap dan mencaplok apa saja yang ada dihadapannya. Tak ada lagi yang bisa menghentikan desakan keinginan hawa nafsunya, kecuali maut! Hadits di atas menjelaskan bahwa kesadaran manusia akan pupus jika nafsu ketamakan dan keserakahan telah menguasai seluruh ruang kehidupan manusia. Ada sebuah ungkapan tepat yang mengatakan bahwa nafsu itu tidak terbatas, nafsu bahkan lebih luas dari semesta alam.
Jadi, jika engkau menuruti kemauan hawa nafsumu maka dia akan terus membawamu hingga engkau dihempaskan oleh keterbatasan waktu yang engkau miliki, sementara nafsu tidak berhenti dan tidak habis-habisnya menghisap dirimu!
ENGGAN MEMPROTES ORANG ORANG DURJANA
Sebab lainnya yang dapat mengakibatkan kehancuran dan timbulnya bencana alam adalah tidak adanya sekelompok orang yang berani meneriakkan kebenaran dan memprotes kejahatan serta keserakahan orang-orang durjana yang terus melampiaskan nafsu angkaranya.
Tidak adanya orang-orang yang berani melarang kaum durjana melampiaskan ketamakannya, mengakibatkan kejahatan dan kerakusan mereka tidak lagi terbendung dan terkontrol. Mereka, kaum durjana itu, menjadi mesin ketamakan yang dengan bebas dan leluasa melampiaskan nafsu serakahnya menghisap dan mengeksploitasi alam secara membabi buta! Para wakil rakyat yang semestinya memperingatkan mereka dan menjebloskan mereka ke penjara malah berpura-pura buta dan bisu.
Mata mereka telah dibutakan oleh harta, mulut mereka disumpal uang. Maka terjadilah ketidakseimbangan alam akibat kezaliman yang dilakukan si saudara kecil terhadap saudara besarnya (alam) yang selama ini sabar menerima perlakuan buruk dari saudara kecilnya (manusia).
Segalanya terbatas, termasuk kesabaran si saudara besar, maka terjadilah bencana dan musibah yang menimpa manusia secara merata, yang tidak hanya menimpa kaum zalim saja tetapi juga orang-orang yang tidak melakukan kejahatan pun terlibas oleh azab yang turun tanpa pandang bulu!
Dan peliharalah dirimu daripada azab (siksa) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu” (QS al-Anfal [8] ayat 25)
Azab yang turun secara merata ini merupakan salah satu akibat pengabaian manusia dari kewajibannya memprotes kebiadaban kaum durjana. Imam Ali as berkata, “Munculnya kerusakan (fasad) adalah karena kemukaran yang tidak dicegah!” (Syarah Nahjul Balaghah 8 : 244)
Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Allah Swt berfirman kepada Nabi Syu’aib as : “Aku akan menyiksa seratus ribu kaummu, empat puluh ribu dari mereka adalah orang-orang jahat, dan enam puluh ribu dari mereka adalah orang-orang yang baik!”
Nabi Syu’aib heran dan bertanya : “Yang jahat memang pantas diazab tapi mengapa yang baik juga diazab?” Allah SwT menjawab : “Mereka tidak mencegah orang-orang yang berbuat maksiat dan tidak marah dengan kemarahan-Ku!” (Misykat al-Anwar 51)
Kebanyakan ulama dan agamawan pun hanya mau menganjurkan kebaikan tapi takut dan enggan melarang perbuatan-perbuatan buruk segelintir orang (para penguasa dan pengusaha). Mereka membiarkan kaum durjana berbuat semena-mena dan tiada mempedulikan nafsu angkara yang mereka lampiaskan di mana-mana!
Imam Ali as berkata, “Pelaku kezaliman, yang membantunya dan yang rela dengan perbuatan zalim tersebut, ketiganya bersekongkol dalam kezaliman!” (Ihqaaq al-Haq 12 : 432)
Kaum elit dan para konglomerat ini memang sedikit, jika dilihat dari kwantitasnya tetapi didukung oleh jumlah uang yang banyak (uang yang juga diperoleh dari merampok uang rakyat). Kadang hal inilah yang membuat beberapa ulama fasiq menjadi tergiur sehingga akhirnya bisu dan buta.
Mereka enggan membuka mulut dan enggan melarang kejahatan dan keserakahan yang sudah tak bisa ditolerir lagi. Mereka seperti kaum Musa yang melihat Qarun. “berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun!” (QS al-Qashash [28] ayat 79)
Mereka malah tergiur dengan harta Qarun – sang pengusaha – yang berlimpah ruah. Mereka mengidam-idamkan dalam hati mereka: “Andai aku juga punya harta seperti yang dimiliki Qarun. Kita bisa melihat sekarang banyak sekali ulama dan kaum intelek kita yang lebih senang berlomba-lomba memperbanyak harta dan memamerkan kekayaan mereka ketimbang memerhatikan hajat hidup umatnya!
Mereka berkeliling mengendarai mobil-mobil mewah sementara umatnya mengais kehidupan di antara belas kasihan orang lain. Mereka sibuk mengurus partai atau kelompok mereka namun melupakan kepentingan-kepentingan yang lebih luas. Teramat ironis memang, tapi inilah kenyataan yang terjadi di Indonesia! Inilah sebabnya maka bencana serta musibah terjadi tidak henti-hentinya, memakan korban nyawa manusia, bahkan ternak sekalipun!
Allah SwT berfirman, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka bermaksiat dan selalu melampaui batas, mereka satu sama lain tidak melarang perbuatan munkar yang mereka perbuat . Sesungguhynya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu!” (QS Al-Maidah [5] ayat : 78-79)
Yang sekarang muncul adalah saling tuduh dan menghujat antar kaum elit itu sendiri. Mereka saling salah-menyalahkan. Mereka melakukan kesalahan baru lagi yaitu enggan bercermin diri! Imam Ali karamallahu wajhah berkata, “Lalainya seseorang dari aib-aibnya adalah sebagian daripada dosa-dosa yang paling besar!” (Bihar al-Anwar 78 : 91)
SIAPA YANG BISA SELAMAT DARI BENCANA DAN SIKSA
Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, maka Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat (su’u) dan Kami timpakan kepada orang-orang zalim azab siksa yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik” (QS Al-A’raf [7] ayat: 165).
Beratnya persyaratan Nahi Munkar bukan berarti kita mesti berdiam diri. Kita harus bersatu padu, saling bahu membahu, berani berteriak kepada orang-orang durjana : “Mampus kalian bersama keserakahanmu!”. Berani bertindak dengan tidak memilih orang-orang munafik, busuk dan pengkhianat itu! Jangan terbius janji-janji dan akting mereka di depan publik! Namun kita tetap harus menjauhi tindakan anarkis, karena tindakan tanpa petunjuk para faqih yang kompeten justru menambah kerusakan di muka bumi ini!
Ingat! Jangan pilih dan percaya kepada orang-orang yang tidak memiliki masa lalu yang baik, kaum pendusta dan orang-orang bodoh. Sekali lagi, jangan pilih mereka! Imam al-Shadiq as berkata,”Hati-hatilah kamu dari bersahabat dengan orang yang dungu (al-ahmaq) dan pendusta. Karena si dungu bermaksud memberimu manfaat tetapi malah mendatangkan mudharat bagimu, dan ketika dia bermaksud mendekatkan (sesuatu atau seseorang) kepadamu, dia malah menjauhkannya darimu, dan menjauhkan darimu apa yang ingin didekatkannya. Sedangkan si pendusta, jika kamu mempercayainya, ia justru mengkhianatimu, dan jika kamu berbicara kepadanya, dia akan mendustakanmu, dan jika ia berbicara kepadamu, kamu mendustakannya…” (Bihar al-Anwar 74 : 193)
Imam Ali as berkata, “Kebenaran yang tidak terkoordinir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terkoordinir!”.
Perkataan Imam Ali as ini menyiratkan suatu perintah agar kita semua termasuk masyarakat Indonesia mesti bersatu padu, bersama-sama melawan kejahatan yang sudah terkoordinir secara rapi ini. Kita memerlukan suatu kesadaran bahwa kita satu sama lain wajib saling melindungi dan saling membantu tanpa harus dikotak-kotakan oleh agama, mazhab, ras, suku, dan teritorial.
Kesadaran berbangsa dan kebersamaan kemanusiaan ini mesti ditumbuhkan kembali dan dikuatkan dengan pemahaman agama kita masing-masing.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Leia Mais...
0

,?Sekadar Bencana Alam Ataukah Murka Allah? ,

Leia Mais...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

SMS GRATIS

Make Widget
 
MINAK JINGGO © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |