0

Mengapa Allah Swt Mencintai Orang-orang Yang Sabar

Senin, 17 Januari 2011.

Allah SwT berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS Ali Imran [3] ayat 146)
Seseorang hanya dapat menjadi betul-betul sabar, jika ia memahami makna dan sifat kesabaran. Kesabaran melenyapkan esensi waktu. Jadi, akar kesabaran berada di alam keabadian.
Jika seseorang ingin mengambil buah dari sebatang pohon, namun ia menyadari bahwa buahnya itu belum matang, maka ia akan mengekang nafsunya hingga buah itu masak.
Istilah Arab untuk kesabaran adalah shabr, yang berasal dari akar kata yang berarti mengekang atau menahan. Kesabaran menghubungkan waktu pengalaman dengan titik mutlak di luar jangkauan waktu. Kesabaran membuat makna dan relativitas waktu menjadi jelas.
Abu Basir mengatakan, “Aku mendengar dari Imam Shadiq as mengatakan, ‘Seorang yang merdeka adalah orang yang merdeka dalam segala keadaan. Bila dia dalam kesulitan dia sabar, segala bencana tidak membuatnya berubah meskipun dia di penjarakan, dikalahkan, dan dibuat susah. Sebab, penjara dan perbudakan tidak mengurangi kehormatan Yusuf as. Kegelapan dan ketakutan dalam sumur tidak dapat melenyapkannya sampai Allah menjadikannya rasul-Nya dan mengasihani bangsa itu lantaran dia. Kesabaran dan ketabahan adalah seperti ini. Ia senantiasa menghasilkan kebaikan. Karena itu, bersabar dan tabahlah agar mendapat pahalanya”
Kunci kesabaran adalah pengetahuan yang lebih tinggi; jika pengetahuan dicapai, maka seseorang itu akan menjadi teguh. Ketika menggambarkan perjalanan spiritual Nabi Musa, Alquran mengungkapkan, “Bagaimana engkau bisa bersabar terhadap sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya” (Q.S. 18: 68).
Kata pengetahuan dalam ayat ini mempunyai maksud sebagai kondisi penciptaan sesungguhnya. Pengetahuan seringkali dirangsang oleh kondisi dan peristiwa eksternal.
Kesabaran tidak semata-mata pasrah total terhadap segala keadaan yang menimpanya; hanya orang bodoh saja yang berbuat seperti ini. Kesabaran harus datang dengan pengetahuan tentang penyebab dari suatu situasi itu, dan langkah-langkah apa yang harus diambil untuk menghadapi akibat negatif dari situasi tersebut. Ini akan menghasilkan keadilan dan keseimbangan (mizan).
Hidup dengan kesabaran, dijaga oleh kesabaran, serta mampu merasakan kebahagiaan yang datang dari kesabaran seperti yang diungkapkan di atas, hanya dapat dicapai oleh orang mukmin.
Sabar dan salat menghubungkan seseorang dengan kasih sayang tak berbatas yang membuat kaum mukmin menjadi lebih menyadari bahwa Allah memang bersama orang-orang yang sabar.
Ini artinya, kaum mukmin mengikuti firman Allah, waspada benar-benar, serta di saat yang sama, mampu melakukan tindakan yang tepat ketika diperlukan.
Pada kondisi semacam itu, syahadat dan tindakan menyatu tanpa adanya gesekan. Pada kondisi itu, sang hamba telah memuliakan Tuhannya. Sang hamba mampu menembus waktu hingga ia dapat dekat dengan Dia yang Mendahului Waktu, Dia yang menjaga waktu, Dia yang akan tetap ada setelah waktu dan di luar waktu: Allah Sang Realitas Abadi. (Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir Surat al-Baqarah ayat 153)
Imam Shadiq berkata, “Setiap Mukmin yang bersabar menanggung penderitaan, mendapatkan pahala seribu syuhada.”
Amirul Mukminin diriwayatkan telah mengatakan, “Seorang Muslim menjadi sempurna melalui tiga kebaikan : berjuang demi iman dan agama, sederhana dalam gaya hidup, dan sabar dalam kesulitan.”
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, “Hai manusia, bersabarlah menanggung derita. Sesungguhnya orang yang tidak mempunyai kesabaran, maka dia juga tidak mempunyai agama.”
Kesabaran para Nabi dan Rasul menghadapi para pembangkangnya adalah bukti dari cinta yang terinspirasi dari Tuhan.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah…
Leia Mais...
0

Iman itu Cinta & Benci





Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Iman itu adalah cinta dan benci” ~ Bihar al-Anwar 78 : 175

STUDI yang menyeluruh terhadap al-Qur’an dan Hadits akan memperlihatkan suatu pandangan Islam tentang cinta yang bersifat Ilahiyyah maupun yang bersifat humanis, yang memiliki kemuliaan dan nilai-nilai yang tinggi.
Di dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain diriwayatkan bahwa Imam Muhammad al-Baqir as telah berkata, “…agama itu adalah cinta dan sebaliknya cinta itu adalah agama” [38]
Cinta memiliki tingkatan-tingkatan yang bergantung pada kelayakkan atau kesiapan seseorang untuk menerimanya. Dengan kata lain tingkatan ruhani seseorang bergantung dari kesiapan atau kelayakkannya untuk memperoleh cinta. Hal ini bisa dicontohkan, jika sebuah keadilan layak untuk dicintai maka ketidakadilan menjadi tidak layak untuk dicintai. Atau contoh lainnya, jika seorang jujur layak untuk dicintai, maka seorang pendusta tentu saja tidak pantas untuk dicintai atau bahkan kita pantas membencinya!. Seseorang bisa saja berdo’a untuk suatu yang bermanfaat bagi orang yang dicintainya.
Diriwayatkan Imam al-Shadiq as pernah berkata, “Merupakan tabiat hati (manusia) mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat buruk kepadanya” [39]
Suatu waktu ditanyakan kepada Aba Abdillah (al-Shadiq) as tentang cinta dan benci, apakah ia merupakan bagian dari iman. Imam as menjawab,”Bukankah iman itu tidak lain adalah cinta dan benci?” Lalu Imam as membacakan ayat (QS 49 : 7) :
“…tetapi Allah menjadikan kami cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada keingkaran dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus!” [40]
Kita akan semakin memahami konsep ini lebih jauh jika kita mencoba untuk menyimak perkataan Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib as, “Teman-temanmu ada tiga dan musuh-musuhmu juga ada tiga. Adapun teman-temanmu ialah temanmu sendiri, teman dari temanmu dan musuh dari musuhmu. Sedangkan musuh-musuhmu ialah musuhmu sendiri, musuh temanmu dan teman musuhmu” [41]
MUNGKINKAH KITA BISA MENCINTAI SAHABAT KITA, DAN PADA SAAT YANG SAMA MENCINTAI MUSUH SAHABAT KITA?
Kita menyadari bahwa adalah tidak mungkin kita bersahabat dengan musuh dari sahabat kita. Perbuatan kita seperti itu bisa menggelincirkan kita ke bentuk pengkhianatan. Dan contoh yang nyata adalah apa yang telah dilakukan pemerintahan Mesir, Saudi Arabia dan Yordania. Mereka mengaku prihatin terhadap bangsa Palestina di Gaza tetapi di sisi lain mereka mematuhi semua yang diinginkan musuh Islam, yaitu Zionis Israel. Bukankah sikap seperti ini bukti kemunafikan yang sangat terang benderang?.
Cobalah Anda meneropong ke lubuk hati Anda yang terdalam, apakah hati Anda tidak merasakan kegelisahan, ketika Anda berteman dengan teman Anda dan pada saat yang bersamaan Anda pun berteman dengan musuh teman Anda? Jika hati Anda tidak merasakan kegelisahan maka bisa jadi Anda adalah seorang hipokrit alias munafik.
Di dalam perbandingan dengan keyakinan-keyakinan agama lain, ada satu aspek cinta di dalam Islam yang senantiasa mempertimbangkan bentuk kebencian yang merupakan bagian dari cinta itu sendiri. Islam bahkan mengajarkan kepada kaum Muslim untuk mencintai manusia dan menyayangi mereka dan menjalin hubungan dengan mereka walau pun mereka tidak percaya kepada Islam atau bahkan kepada Tuhan sekali pun.
Seseorang bisa saja memiliki banyak teman yang mencintainya, dan pada saat yang sama ada orang yang membencinya; apakah ia mengingini atau tidak. Kita tahu bahwa banyak orang-orang baik di dalam masyarakat kita, tetapi tidak dapat pula dipungkiri bahwa tidak sedikit orang-orang yang berkarakter buruk ada di sana. Ada dua kutub yang saling menarik dan saling menolak. Orang-orang baik menarik orang-orang yang sejenisnya, dan menolak orang yang berkarakter buruk dan begitu pun sebaliknya.
Alasan kemiripan dan keserupaan inilah yang menjadi landasan cinta dan kasih sayang antar manusia. [43]
Bagaimana pun, tidaklah mungkin bagi seseorang yang memiliki prinsip di dalam hidupnya dan mengabdikan hidupnya untuk menyadari nilai-nilai suci untuk acuh tidak acuh terhadap orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan amoral, atau melakukan kejahatan di tengah-tengah masyarakat.
Fudlail bin Yasar bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Imam Ja’far) as, tentang cinta dan benci, dari bagian iman yang manakah keduanya itu? Imam as menjawab, “Bukankah iman itu tidak lain cinta dan benci?!” [44]
Ada suatu kecenderungan pada sebagian orang yang berpandangan dan bersikap tanpa kebencian sedikit pun. Orang-orang ini menganggap pemikiran dan pola pandang seperti ini adalah benar dan mulia, sehingga mereka menganggap semua orang adalah sahabat dan teman-teman mereka, tak terkecuali penjahat masyarakat sekali pun.
Sebaliknya Islam mengajarkan kepada manusia untuk mencintai dan menyayangi manusia seluruhnya secara umum, namun dalam saat yang sama tidak mentolerir orang-orang yang melakukan tindakan-indakan amoral atau bahkan kejahatan sosial, seperti yang dilakukan oleh para koruptor, manipulator, bahkan para penindas.
Kita tidak bisa mentolerir apa yang telah dilakukan oleh Hitler dengan Nazinya dan pada saat yang sama kita acuh tak acuh terhadap apa yang dilakukan oleh presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang dengan tentara sekutunya meluluh-lantakkan negara orang lain, Afghanistan maupun Irak. Sikap macam apa yang seperti ini?
Karena itu pula saya merasa ada keganjilan atas sikap orang2 Islam formalis yang berpawai/berdemo keliling kota meneriakkan anti-Zionis Israel tapi pada saat yang sama menerima kebengisan Obama. Sikap macam apa ini?
Apakah fitrah dan hati nurani kita bisa mencintai tentara-tentara Zionis Israel yang membantai orang-orang Palestina dan pada waktu yang sama pula kita menyayangi orang-orang Palestina yang tertindas itu? Tentu saja tidak!
Oleh karena itu Islam bukan hanya agama cinta, tetapi pada saat yang sama adalah agama benci!
Rasulullah saww bersabda kepada para sahabatnya, “Tiang iman yang mana yang paling kokoh?” Mereka para sahabat menjawab,“Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu” Sebagian dari mereka berkata,”Shalat!”
Sebagian lain menjawab,“Puasa!”
Sebagian lainnya menjawab,“Haji dan Umrah!”
Dan sebagian lainnya menjawab,“Jihad!”

Namun Rasul saww menjawab, “Seluruh jawaban yang kamu sebutkan memiliki keistimewaan. Namun jawaban yang tepat bukanlah itu. Karena tiang iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, berwali kepada para wali Allah (tawalla) dan berlepas diri dari para musuh Allah (tabarra’)” 45]
Oleh karena itu pula Islam memerintahkan juga kepada kita untuk menjauhi orang-orang alim yang menjual murah ayat-ayat suci, mereka yang telah dibeli oleh dajjal-dajjal dan merelakan dirinya menjadi pesan sponsor para penindas dan kaum mustakbarin. Tentu saja Anda yang berhati bersih tidak bisa bersimpati dan mencintai orang-orang seperti ini.
Rasulullah saww telah bersabda,”Wahai hamba Allah! Cintailah (seseorang) karena Allah, dan bencilah karena-Nya. Tolonglah (seseorang) karena Allah dan perangilah karena-Nya. Sesungguhnya seseorang tidak bakal mendapatkan pertolongan Allah kecuali dengan melakukannya. Dan seseorang tidak akan mengenyam rasa keimanan kendati shalat dan puasanya bertumpuk hingga ia berbuat demikian…” [46]
Laa hawla wa laa quwwata illa billah…tiada daya & kekuatan kecuali hanya karena pertolongan Allah jua…
Leia Mais...
0

Cinta Meluluhkan Kebencian & Prasangka

 


“…dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (Al-Qur’an, Surah Al-Maaidah ayat : 8)
“The hatred you’re carrying is a live coal in your heart – far more damaging to yourself than to them.”- “Kebencian yang Anda bawa, seumpama sebuah batu bara yang ada dalam hati Anda – yang jauh lebih merusak diri Anda sendiri ketimbang mereka (yang Anda benci)” ~ Lawana Blackwell
Suatu waktu seorang laki-laki dari Syam (Suriah) diupah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan untuk mencaci-maki Keluarga Rasulullah saww. Di Madinah, lelaki ini berjumpa dengan Imam Hasan as (putera Imam Ali dan Fathimah & cucu Nabi Muhammad Saw) dan langsung saja ia mencerca dan mengutuk beliau. Imam Hasan tidak marah, bahkan ia menunggu sampai lelaki itu menyelesaikan “hajatnya”.
Setelah lelaki Syam ini selesai dan puas mengutuk beliau, Imam Hasan menyapanya sambil tersenyum :
“Anda pasti bukan orang sini. Apakah Anda tersesat? Jika Anda butuh pertolongan, mari saya tolong.
Jika Anda butuh sesuatu, akan saya beri.
Jika Anda butuh petunjuk ke suatu tempat, mari saya tunjukkan,
Jika Anda butuh orang untuk membawakan barang-barang Anda, mari saya bawakan.
Jika Anda lapar, mari bersama saya makan bersama.
Jika Anda butuh pakaian, nanti saya akan beri.
Jika Anda diusir dari kampung halaman Anda, mari saya carikan tempat tinggal.
Jika Anda punya keperluan-keperluan, mari saya penuhi semua kebutuhan Anda dan
Jika Anda berada dalam perjalanan, tinggallah bersama saya untuk menjadi tamu saya, nanti akan saya beri Anda bekal….”
Setelah mendengar tawaran Imam Hasan yang sangat simpatik itu, lelaki dari Syam itu menangis seraya berkata, “Saya bersaksi bahwa Tuan adalah khalifah Allah di muka bumi ini. Allah Mahatahu bahwa sebelum ini, tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya benci dan sekarang tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya cintai di antara seluruh manusia di dunia ini!” (*)
Imam Hasan as, cucu Rasulullah saww ini, tidak segera marah ketika ia dicerca dan dikutuk sedemikian rupa. Pertama-tama ia berkata, “Pasti Anda bukan orang sini!”. Dengan demikian Imam Hasan mengawali pandangannya terhadap lelaki Syam ini dengan prasangka baiknya, bahwa beliau meyakini si lelaki malang ini bukan penduduk Madinah sehingga ia tiada mengenal Imam Hasan yang sesungguhnya.
Provokasi Mu’awiyyah terhadap penduduk Syam telah membentuk pandangan kebencian terhadap Ahlul Bait Rasulullah, namun sikap santun dan simpatik dari Imam Hasan mengubah pola pikir dan pandangannya tentang Ahlul Bait.
Hal seperti ini pun terjadi pada kita semua. Kita sering mengecam dan mencela seseorang atau suatu kelompok yang hanya kita ketahui dari musuh-musuh mereka, bukan dari orang yang kita kecam itu sendiri.
Informasi yang terdistorsi telah merusak pandangan kita yang jernih. Ketelitian dan kejujuran kita untuk mengamati pandangan orang lain sangatlah diperlukan.
Rumi bersyair :
Siapa menabur benih duri di dunia ini,
Waspadalah! Jangan mencarinya
di kebun mawar!
(**)
Asumsi-asumsi serta prasangka-prasangka yang tak beralasan mesti disingkirkan dari benak pikiran kita.
“Hatred is settled anger” – “Kebencian dimantapkan dengan kemarahan” ~ Marcus Tullius Cicero
Allahumma shallii ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad…Ya Allah taburkanlah senantiasa kepada kami berkah cintaMu, cinta MuhammadMu, dan Ahlul-bayt RasulMu…amiin..
____________________
(*) Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul Bait, Imam Hasan as, Pustaka Hidayah
(**) Matsnawi II:153)
Leia Mais...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

SMS GRATIS

Make Widget
 
MINAK JINGGO © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |