0

Mengapa Allah Swt Mencintai Orang-orang Yang Sabar

Senin, 17 Januari 2011.

Allah SwT berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS Ali Imran [3] ayat 146)
Seseorang hanya dapat menjadi betul-betul sabar, jika ia memahami makna dan sifat kesabaran. Kesabaran melenyapkan esensi waktu. Jadi, akar kesabaran berada di alam keabadian.
Jika seseorang ingin mengambil buah dari sebatang pohon, namun ia menyadari bahwa buahnya itu belum matang, maka ia akan mengekang nafsunya hingga buah itu masak.
Istilah Arab untuk kesabaran adalah shabr, yang berasal dari akar kata yang berarti mengekang atau menahan. Kesabaran menghubungkan waktu pengalaman dengan titik mutlak di luar jangkauan waktu. Kesabaran membuat makna dan relativitas waktu menjadi jelas.
Abu Basir mengatakan, “Aku mendengar dari Imam Shadiq as mengatakan, ‘Seorang yang merdeka adalah orang yang merdeka dalam segala keadaan. Bila dia dalam kesulitan dia sabar, segala bencana tidak membuatnya berubah meskipun dia di penjarakan, dikalahkan, dan dibuat susah. Sebab, penjara dan perbudakan tidak mengurangi kehormatan Yusuf as. Kegelapan dan ketakutan dalam sumur tidak dapat melenyapkannya sampai Allah menjadikannya rasul-Nya dan mengasihani bangsa itu lantaran dia. Kesabaran dan ketabahan adalah seperti ini. Ia senantiasa menghasilkan kebaikan. Karena itu, bersabar dan tabahlah agar mendapat pahalanya”
Kunci kesabaran adalah pengetahuan yang lebih tinggi; jika pengetahuan dicapai, maka seseorang itu akan menjadi teguh. Ketika menggambarkan perjalanan spiritual Nabi Musa, Alquran mengungkapkan, “Bagaimana engkau bisa bersabar terhadap sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya” (Q.S. 18: 68).
Kata pengetahuan dalam ayat ini mempunyai maksud sebagai kondisi penciptaan sesungguhnya. Pengetahuan seringkali dirangsang oleh kondisi dan peristiwa eksternal.
Kesabaran tidak semata-mata pasrah total terhadap segala keadaan yang menimpanya; hanya orang bodoh saja yang berbuat seperti ini. Kesabaran harus datang dengan pengetahuan tentang penyebab dari suatu situasi itu, dan langkah-langkah apa yang harus diambil untuk menghadapi akibat negatif dari situasi tersebut. Ini akan menghasilkan keadilan dan keseimbangan (mizan).
Hidup dengan kesabaran, dijaga oleh kesabaran, serta mampu merasakan kebahagiaan yang datang dari kesabaran seperti yang diungkapkan di atas, hanya dapat dicapai oleh orang mukmin.
Sabar dan salat menghubungkan seseorang dengan kasih sayang tak berbatas yang membuat kaum mukmin menjadi lebih menyadari bahwa Allah memang bersama orang-orang yang sabar.
Ini artinya, kaum mukmin mengikuti firman Allah, waspada benar-benar, serta di saat yang sama, mampu melakukan tindakan yang tepat ketika diperlukan.
Pada kondisi semacam itu, syahadat dan tindakan menyatu tanpa adanya gesekan. Pada kondisi itu, sang hamba telah memuliakan Tuhannya. Sang hamba mampu menembus waktu hingga ia dapat dekat dengan Dia yang Mendahului Waktu, Dia yang menjaga waktu, Dia yang akan tetap ada setelah waktu dan di luar waktu: Allah Sang Realitas Abadi. (Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir Surat al-Baqarah ayat 153)
Imam Shadiq berkata, “Setiap Mukmin yang bersabar menanggung penderitaan, mendapatkan pahala seribu syuhada.”
Amirul Mukminin diriwayatkan telah mengatakan, “Seorang Muslim menjadi sempurna melalui tiga kebaikan : berjuang demi iman dan agama, sederhana dalam gaya hidup, dan sabar dalam kesulitan.”
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, “Hai manusia, bersabarlah menanggung derita. Sesungguhnya orang yang tidak mempunyai kesabaran, maka dia juga tidak mempunyai agama.”
Kesabaran para Nabi dan Rasul menghadapi para pembangkangnya adalah bukti dari cinta yang terinspirasi dari Tuhan.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah…
Leia Mais...
0

Iman itu Cinta & Benci





Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Iman itu adalah cinta dan benci” ~ Bihar al-Anwar 78 : 175

STUDI yang menyeluruh terhadap al-Qur’an dan Hadits akan memperlihatkan suatu pandangan Islam tentang cinta yang bersifat Ilahiyyah maupun yang bersifat humanis, yang memiliki kemuliaan dan nilai-nilai yang tinggi.
Di dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain diriwayatkan bahwa Imam Muhammad al-Baqir as telah berkata, “…agama itu adalah cinta dan sebaliknya cinta itu adalah agama” [38]
Cinta memiliki tingkatan-tingkatan yang bergantung pada kelayakkan atau kesiapan seseorang untuk menerimanya. Dengan kata lain tingkatan ruhani seseorang bergantung dari kesiapan atau kelayakkannya untuk memperoleh cinta. Hal ini bisa dicontohkan, jika sebuah keadilan layak untuk dicintai maka ketidakadilan menjadi tidak layak untuk dicintai. Atau contoh lainnya, jika seorang jujur layak untuk dicintai, maka seorang pendusta tentu saja tidak pantas untuk dicintai atau bahkan kita pantas membencinya!. Seseorang bisa saja berdo’a untuk suatu yang bermanfaat bagi orang yang dicintainya.
Diriwayatkan Imam al-Shadiq as pernah berkata, “Merupakan tabiat hati (manusia) mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat buruk kepadanya” [39]
Suatu waktu ditanyakan kepada Aba Abdillah (al-Shadiq) as tentang cinta dan benci, apakah ia merupakan bagian dari iman. Imam as menjawab,”Bukankah iman itu tidak lain adalah cinta dan benci?” Lalu Imam as membacakan ayat (QS 49 : 7) :
“…tetapi Allah menjadikan kami cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada keingkaran dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus!” [40]
Kita akan semakin memahami konsep ini lebih jauh jika kita mencoba untuk menyimak perkataan Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib as, “Teman-temanmu ada tiga dan musuh-musuhmu juga ada tiga. Adapun teman-temanmu ialah temanmu sendiri, teman dari temanmu dan musuh dari musuhmu. Sedangkan musuh-musuhmu ialah musuhmu sendiri, musuh temanmu dan teman musuhmu” [41]
MUNGKINKAH KITA BISA MENCINTAI SAHABAT KITA, DAN PADA SAAT YANG SAMA MENCINTAI MUSUH SAHABAT KITA?
Kita menyadari bahwa adalah tidak mungkin kita bersahabat dengan musuh dari sahabat kita. Perbuatan kita seperti itu bisa menggelincirkan kita ke bentuk pengkhianatan. Dan contoh yang nyata adalah apa yang telah dilakukan pemerintahan Mesir, Saudi Arabia dan Yordania. Mereka mengaku prihatin terhadap bangsa Palestina di Gaza tetapi di sisi lain mereka mematuhi semua yang diinginkan musuh Islam, yaitu Zionis Israel. Bukankah sikap seperti ini bukti kemunafikan yang sangat terang benderang?.
Cobalah Anda meneropong ke lubuk hati Anda yang terdalam, apakah hati Anda tidak merasakan kegelisahan, ketika Anda berteman dengan teman Anda dan pada saat yang bersamaan Anda pun berteman dengan musuh teman Anda? Jika hati Anda tidak merasakan kegelisahan maka bisa jadi Anda adalah seorang hipokrit alias munafik.
Di dalam perbandingan dengan keyakinan-keyakinan agama lain, ada satu aspek cinta di dalam Islam yang senantiasa mempertimbangkan bentuk kebencian yang merupakan bagian dari cinta itu sendiri. Islam bahkan mengajarkan kepada kaum Muslim untuk mencintai manusia dan menyayangi mereka dan menjalin hubungan dengan mereka walau pun mereka tidak percaya kepada Islam atau bahkan kepada Tuhan sekali pun.
Seseorang bisa saja memiliki banyak teman yang mencintainya, dan pada saat yang sama ada orang yang membencinya; apakah ia mengingini atau tidak. Kita tahu bahwa banyak orang-orang baik di dalam masyarakat kita, tetapi tidak dapat pula dipungkiri bahwa tidak sedikit orang-orang yang berkarakter buruk ada di sana. Ada dua kutub yang saling menarik dan saling menolak. Orang-orang baik menarik orang-orang yang sejenisnya, dan menolak orang yang berkarakter buruk dan begitu pun sebaliknya.
Alasan kemiripan dan keserupaan inilah yang menjadi landasan cinta dan kasih sayang antar manusia. [43]
Bagaimana pun, tidaklah mungkin bagi seseorang yang memiliki prinsip di dalam hidupnya dan mengabdikan hidupnya untuk menyadari nilai-nilai suci untuk acuh tidak acuh terhadap orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan amoral, atau melakukan kejahatan di tengah-tengah masyarakat.
Fudlail bin Yasar bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Imam Ja’far) as, tentang cinta dan benci, dari bagian iman yang manakah keduanya itu? Imam as menjawab, “Bukankah iman itu tidak lain cinta dan benci?!” [44]
Ada suatu kecenderungan pada sebagian orang yang berpandangan dan bersikap tanpa kebencian sedikit pun. Orang-orang ini menganggap pemikiran dan pola pandang seperti ini adalah benar dan mulia, sehingga mereka menganggap semua orang adalah sahabat dan teman-teman mereka, tak terkecuali penjahat masyarakat sekali pun.
Sebaliknya Islam mengajarkan kepada manusia untuk mencintai dan menyayangi manusia seluruhnya secara umum, namun dalam saat yang sama tidak mentolerir orang-orang yang melakukan tindakan-indakan amoral atau bahkan kejahatan sosial, seperti yang dilakukan oleh para koruptor, manipulator, bahkan para penindas.
Kita tidak bisa mentolerir apa yang telah dilakukan oleh Hitler dengan Nazinya dan pada saat yang sama kita acuh tak acuh terhadap apa yang dilakukan oleh presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang dengan tentara sekutunya meluluh-lantakkan negara orang lain, Afghanistan maupun Irak. Sikap macam apa yang seperti ini?
Karena itu pula saya merasa ada keganjilan atas sikap orang2 Islam formalis yang berpawai/berdemo keliling kota meneriakkan anti-Zionis Israel tapi pada saat yang sama menerima kebengisan Obama. Sikap macam apa ini?
Apakah fitrah dan hati nurani kita bisa mencintai tentara-tentara Zionis Israel yang membantai orang-orang Palestina dan pada waktu yang sama pula kita menyayangi orang-orang Palestina yang tertindas itu? Tentu saja tidak!
Oleh karena itu Islam bukan hanya agama cinta, tetapi pada saat yang sama adalah agama benci!
Rasulullah saww bersabda kepada para sahabatnya, “Tiang iman yang mana yang paling kokoh?” Mereka para sahabat menjawab,“Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu” Sebagian dari mereka berkata,”Shalat!”
Sebagian lain menjawab,“Puasa!”
Sebagian lainnya menjawab,“Haji dan Umrah!”
Dan sebagian lainnya menjawab,“Jihad!”

Namun Rasul saww menjawab, “Seluruh jawaban yang kamu sebutkan memiliki keistimewaan. Namun jawaban yang tepat bukanlah itu. Karena tiang iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, berwali kepada para wali Allah (tawalla) dan berlepas diri dari para musuh Allah (tabarra’)” 45]
Oleh karena itu pula Islam memerintahkan juga kepada kita untuk menjauhi orang-orang alim yang menjual murah ayat-ayat suci, mereka yang telah dibeli oleh dajjal-dajjal dan merelakan dirinya menjadi pesan sponsor para penindas dan kaum mustakbarin. Tentu saja Anda yang berhati bersih tidak bisa bersimpati dan mencintai orang-orang seperti ini.
Rasulullah saww telah bersabda,”Wahai hamba Allah! Cintailah (seseorang) karena Allah, dan bencilah karena-Nya. Tolonglah (seseorang) karena Allah dan perangilah karena-Nya. Sesungguhnya seseorang tidak bakal mendapatkan pertolongan Allah kecuali dengan melakukannya. Dan seseorang tidak akan mengenyam rasa keimanan kendati shalat dan puasanya bertumpuk hingga ia berbuat demikian…” [46]
Laa hawla wa laa quwwata illa billah…tiada daya & kekuatan kecuali hanya karena pertolongan Allah jua…
Leia Mais...
0

Cinta Meluluhkan Kebencian & Prasangka

 


“…dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (Al-Qur’an, Surah Al-Maaidah ayat : 8)
“The hatred you’re carrying is a live coal in your heart – far more damaging to yourself than to them.”- “Kebencian yang Anda bawa, seumpama sebuah batu bara yang ada dalam hati Anda – yang jauh lebih merusak diri Anda sendiri ketimbang mereka (yang Anda benci)” ~ Lawana Blackwell
Suatu waktu seorang laki-laki dari Syam (Suriah) diupah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan untuk mencaci-maki Keluarga Rasulullah saww. Di Madinah, lelaki ini berjumpa dengan Imam Hasan as (putera Imam Ali dan Fathimah & cucu Nabi Muhammad Saw) dan langsung saja ia mencerca dan mengutuk beliau. Imam Hasan tidak marah, bahkan ia menunggu sampai lelaki itu menyelesaikan “hajatnya”.
Setelah lelaki Syam ini selesai dan puas mengutuk beliau, Imam Hasan menyapanya sambil tersenyum :
“Anda pasti bukan orang sini. Apakah Anda tersesat? Jika Anda butuh pertolongan, mari saya tolong.
Jika Anda butuh sesuatu, akan saya beri.
Jika Anda butuh petunjuk ke suatu tempat, mari saya tunjukkan,
Jika Anda butuh orang untuk membawakan barang-barang Anda, mari saya bawakan.
Jika Anda lapar, mari bersama saya makan bersama.
Jika Anda butuh pakaian, nanti saya akan beri.
Jika Anda diusir dari kampung halaman Anda, mari saya carikan tempat tinggal.
Jika Anda punya keperluan-keperluan, mari saya penuhi semua kebutuhan Anda dan
Jika Anda berada dalam perjalanan, tinggallah bersama saya untuk menjadi tamu saya, nanti akan saya beri Anda bekal….”
Setelah mendengar tawaran Imam Hasan yang sangat simpatik itu, lelaki dari Syam itu menangis seraya berkata, “Saya bersaksi bahwa Tuan adalah khalifah Allah di muka bumi ini. Allah Mahatahu bahwa sebelum ini, tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya benci dan sekarang tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya cintai di antara seluruh manusia di dunia ini!” (*)
Imam Hasan as, cucu Rasulullah saww ini, tidak segera marah ketika ia dicerca dan dikutuk sedemikian rupa. Pertama-tama ia berkata, “Pasti Anda bukan orang sini!”. Dengan demikian Imam Hasan mengawali pandangannya terhadap lelaki Syam ini dengan prasangka baiknya, bahwa beliau meyakini si lelaki malang ini bukan penduduk Madinah sehingga ia tiada mengenal Imam Hasan yang sesungguhnya.
Provokasi Mu’awiyyah terhadap penduduk Syam telah membentuk pandangan kebencian terhadap Ahlul Bait Rasulullah, namun sikap santun dan simpatik dari Imam Hasan mengubah pola pikir dan pandangannya tentang Ahlul Bait.
Hal seperti ini pun terjadi pada kita semua. Kita sering mengecam dan mencela seseorang atau suatu kelompok yang hanya kita ketahui dari musuh-musuh mereka, bukan dari orang yang kita kecam itu sendiri.
Informasi yang terdistorsi telah merusak pandangan kita yang jernih. Ketelitian dan kejujuran kita untuk mengamati pandangan orang lain sangatlah diperlukan.
Rumi bersyair :
Siapa menabur benih duri di dunia ini,
Waspadalah! Jangan mencarinya
di kebun mawar!
(**)
Asumsi-asumsi serta prasangka-prasangka yang tak beralasan mesti disingkirkan dari benak pikiran kita.
“Hatred is settled anger” – “Kebencian dimantapkan dengan kemarahan” ~ Marcus Tullius Cicero
Allahumma shallii ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad…Ya Allah taburkanlah senantiasa kepada kami berkah cintaMu, cinta MuhammadMu, dan Ahlul-bayt RasulMu…amiin..
____________________
(*) Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul Bait, Imam Hasan as, Pustaka Hidayah
(**) Matsnawi II:153)
Leia Mais...
0

Dua Orang Penyebab Kehancuran Umat





Imam Ali as berkata :
“Patahlah punggungku disebabkan oleh dua orang lelaki di dunia ini.
Yang seorang adalah lelaki yang alim (pandai) di lisan tetapi fasiq (di hatinya).
Yang seorang lagi adalah lelaki yang jahil hatinya (akalnya) walaupun banyak beribadah.
Yang pertama menutupi kefasikannya dengan lisannya.
Yang kedua menutupi kebodohannya dengan ibadahnya.
Karena itu waspadalah kalian atas orang yang fasik dari kalangan para alim dan orang jahil dari kalangan orang-orang yang gemar beribadah. Mereka itu adalah salah satu FITNAH dari setiap fitnah, karena aku (Imam Ali as) mendengar Rasulullah saww bersabda : “Wahai Ali, Salah satu sebab KEHANCURAN atas umatku adalah disebabkan oleh tangan orang munafik yang hanya pandai bicara.” (Kitab al-Khishal 1 : 69)
Leia Mais...
0

Sekadar Bencana Alam Ataukah Murka Allah







bencana.jpg
Kaum spiritualis percaya bahwa ALAM ini adalah SAUDARA BERSAR manusia. Istilah kerennya adalah Makrokosmos sedangkan manusia adalah Mikrokosmosnya. Hubungan keduanya adalah hubungan yang tak dapat dipisahkan, karena keduanya saling mempengaruhi, baik langsung maupun tidak langsung. Perbuatan-perbuatan manusia yang baik berpengaruh langsung pada Alam serta lingkungannya.
Sebaliknya jika manusia kerap berbuat hal-hal yang buruk dan keji maka Alam pun menjadi “murka”. Kemurkaan Alam tersebut dikarenakan banyaknya pengaruh kejahatan dan kekejian yang secara langsung maupun tidak langsung merusak tatanan alam. Ketamakan dan keserakahan manusia menjadikan manusia tiada peduli akan keseimbangan alam. Kebanyakan manusia hanya memikirkan keuntungan sebesar-besarnya dan mengeksploitasi alam tanpa batas.
Hanya memikirkan kepentingan ego pribadinya, golongan atau partainya. Akibatnya terjadilah apa yang disebut bencana alam, seperti kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, gempa dan gunung meletus.
Masih banyak orang yang menganggap bahwa bencana alam seperti itu tidak ada hubungannya dengan perbuatan manusia. Padahal dengan tegas dan lugas Allah SwT berfirman, “Telah tampak kerusakkan (al-fasad) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (QS Al-Ruum [30] ayat 41)
Menurut al-Raghib, fasad mengandung arti “terjadinya ketidakseimbangan atau ketidak harmonisan” [Al-Raghib al-Isfahani : 379]
Al-fasad di dalam ayat tersebut menurut Allamah Thabathaba’i berkonotasi umum. [Thabathaba’i 16: 205-206]. Yaitu fasad yang mencakup semua bentuk kerusakan berupa hilangnya tatanan yang baik di dunia ini, baik yang dikaitkan dengan kehendak manusia maupun yang tidak. Misalnya gempa, kemarau, banjir, wabah penyakit, perang, perampokan dan segala bentuk yang mengganggu ketentraman kehidupan manusia.
Segala kejadian seperti itu termasuk peristiwa-peristiwa alam dianggap sebagai akibat ulah manusia. Baik langsung maupun tidak langsung manusialah yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi kejadian-kejadian seperti itu sebagai pertanda murka Allah terhadap manusia yang larut dalam kemungkaran. Sebagaimana penegasan al-Quran, ”Andaikata kebenaran (al-haq) itu menuruti hawa nafsu mereka pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya” (QS 23 : 71).
Seandainya manusia menjadikan hawanafsu sebagai tolok ukur kebenaran maka pastilah hancur binasa seluruh tatanan alam semesta ini. Sebaliknya al-Quran pun memandang bahwa keutuhan tatanan alam semesta ini pun berkaitan erat dengan ulah dan tingkah laku manusia. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS 7 : 96)
Imam Ja’far ash-Shadiq as juga mengatakan, “Tidaklah kesusahan, musibah dan penyakit yang menimpa seseorang melainkan karena dosa. Karena itulah Allah SwT berfirman : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS 42 : 30) (Bihar al-Anwar 73 : 315)
MENGAPA KALIAN MEMBIARKAN MEREKA MELUBANGI KAPAL
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat yang saling menopang satu dengan lainnya. Kehidupan mereka yang berada di dalam suatu lingkungan diibaratkan oleh Baginda Rasul Saw dengan indahnya bak berada di dalam sebuah bahtera di tengah laut lepas.
Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang melanggar larangan-larangan Allah dan orang-orang yang menaatinya adalah ibarat satu kaum yang bersama-sama naik ke sebuah kapal layar. Sebagian mereka berada di atas dan sebagian lagi berada di bawah (dek). Bila orang-orang yang berada di bagian bawah ingin mengambil air, maka mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu orang-orang yang berada di bagian bawah mengatakan,”Kita lubangi saja lambung kapal ini agar kita memperoleh air tanpa harus menyusahkan orang-orang yang di atas kita”. Jika mereka dibiarkan melakukan niat mereka, maka semua orang yang berada di kapal tersebut pasti celaka. Tetapi jika mereka dicegah, maka orang-orang itu bisa selamat dan selamat pula seluruh penumpang kapal itu!” (Shahih Bukhari dan Tirmidzi)
Penyebab terjadinya bencana longsor di berbagai pelosok negeri kita ini antara lain sama seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Saw di atas. Sebagian masyarakat di dalam suatu lingkungan tertentu tidak mencegah sebagian masyarakat lainnya yang melakukan penebangan liar atas hutan-hutan yang berada di sekitar mereka. Kekejian dan ketamakan yang telah memabukkan sebagian masyarakat menjadikan mereka sedemikian lupa diri dan dengan sewenang-wenang mereka “menzalimi” alam (hutan), dengan membabat habis pepohonan yang sebenarnya merupakan pelindung bagi manusia itu sendiri.
Ketika semua ini telah jauh melampaui batas, maka alam pun mengamuk murka atas perbuatan zalim saudara kecilnya yang tak tahu diri ini. Sebagian masyarakat yang tidak melakukan penebangan liar pun akhirnya menjadi korban amuk murka alam. Hal ini sama seperti para penumpang kapal yang tidak mau peduli atas apa yang dilakukan penumpang lainnya yang melubangi lambung kapal demi kepentingan mereka sendiri tanpa menghiraukan bencana yang bakal terjadi akibat perbuatan bodoh yang mereka lakukan.
MENJADIKAN NAFSU SEBAGAI TOLOK UKUR KEBENARAN
Salah satu dosa besar yang paling berpengaruh buruk terhadap Alam adalah jika hawa nafsu menjadi tolok ukur kebenaran. Jika manusia sudah lebih mengedapankan nafsu di atas segala-galanya maka seluruh tatanan alam semesta ini akan rusak binasa seperti yang dikatakan di dalam Al-Qur’an, “Andaikata kebenaran (al-Haq) itu menuruti hawa nafsu maka pasti rusak binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya” (QS 23 : 71)
Yang dimaksud dengan kebenaran mengikuti hawa nafsu adalah apabila orang-orang yang selama ini dianggap sebagai acuan kebenaran telah tunduk kepada hawa nafsu. Dengan kata lain para pemimpin agama telah tunduk kepada hawa nafsu mereka. Mereka tidak peduli atas apa yang terjadi pada lingkungan mereka.
Mereka lebih takut kepada mafia-mafia atau pengusaha-pengusaha busuk ketimbang Tuhan. Bahkan sebagian mereka pun menerima suap dari mafia-mafia ini agar mereka tidak mencegah apa yang akan mereka lakukan terhadap alam lingkungan yang semestinya dilindungi. Jika pihak pemerintah (umara’) dan ulama diam tak mau peduli atas apa yang dilakukan mafia-mafia hutan ini maka masyarakat pun tidak lagi mempunyai ‘bemper’ dari tindak kejahatan yang dilakukan para mafia hutan ini.
Jika hal ini terjadi maka pastilah seluruh tatanan Alam ini akan rusak binasa dan porak-poranda! Kebakaran hutan, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, banjir dan bencana-bencana lainnya pun terjadi silih berganti.
TAMAK DAN SERAKAH SUMBER KEHANCURAN
Nabi saww bersabda, “Sekiranya Anak Adam mempunyai sebuah lembah emas , niscaya dia akan meminta tambah satu lagi. Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah emas, niscaya dia akan meminta lagi. Tidak akan puas kantong mulut seseorang kecuali jika sudah penuh dengan tanah” (Jami’ ash-Shaghir lis Suyuthi)
Manusia jika sudah terjerat penyakit tamak, ia akan kesulitan untuk melepaskan diri darinya. Imam al-Baqir as berkata, “Orang yang rakus pada dunia bagaikan ulat sutera. Kian bertambah banyak suteranya kian jauh kemungkinannya untuk bisa keluar dari sarangnya. Sampai akhirnya dia mati (terjerat suteranya sendiri)” (Bihar al-Anwar 73 : 23)
Dia akan berubah menjadi monster yang mengerikan, yang siap melahap dan mencaplok apa saja yang ada dihadapannya. Tak ada lagi yang bisa menghentikan desakan keinginan hawa nafsunya, kecuali maut! Hadits di atas menjelaskan bahwa kesadaran manusia akan pupus jika nafsu ketamakan dan keserakahan telah menguasai seluruh ruang kehidupan manusia. Ada sebuah ungkapan tepat yang mengatakan bahwa nafsu itu tidak terbatas, nafsu bahkan lebih luas dari semesta alam.
Jadi, jika engkau menuruti kemauan hawa nafsumu maka dia akan terus membawamu hingga engkau dihempaskan oleh keterbatasan waktu yang engkau miliki, sementara nafsu tidak berhenti dan tidak habis-habisnya menghisap dirimu!
ENGGAN MEMPROTES ORANG ORANG DURJANA
Sebab lainnya yang dapat mengakibatkan kehancuran dan timbulnya bencana alam adalah tidak adanya sekelompok orang yang berani meneriakkan kebenaran dan memprotes kejahatan serta keserakahan orang-orang durjana yang terus melampiaskan nafsu angkaranya.
Tidak adanya orang-orang yang berani melarang kaum durjana melampiaskan ketamakannya, mengakibatkan kejahatan dan kerakusan mereka tidak lagi terbendung dan terkontrol. Mereka, kaum durjana itu, menjadi mesin ketamakan yang dengan bebas dan leluasa melampiaskan nafsu serakahnya menghisap dan mengeksploitasi alam secara membabi buta! Para wakil rakyat yang semestinya memperingatkan mereka dan menjebloskan mereka ke penjara malah berpura-pura buta dan bisu.
Mata mereka telah dibutakan oleh harta, mulut mereka disumpal uang. Maka terjadilah ketidakseimbangan alam akibat kezaliman yang dilakukan si saudara kecil terhadap saudara besarnya (alam) yang selama ini sabar menerima perlakuan buruk dari saudara kecilnya (manusia).
Segalanya terbatas, termasuk kesabaran si saudara besar, maka terjadilah bencana dan musibah yang menimpa manusia secara merata, yang tidak hanya menimpa kaum zalim saja tetapi juga orang-orang yang tidak melakukan kejahatan pun terlibas oleh azab yang turun tanpa pandang bulu!
Dan peliharalah dirimu daripada azab (siksa) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu” (QS al-Anfal [8] ayat 25)
Azab yang turun secara merata ini merupakan salah satu akibat pengabaian manusia dari kewajibannya memprotes kebiadaban kaum durjana. Imam Ali as berkata, “Munculnya kerusakan (fasad) adalah karena kemukaran yang tidak dicegah!” (Syarah Nahjul Balaghah 8 : 244)
Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Allah Swt berfirman kepada Nabi Syu’aib as : “Aku akan menyiksa seratus ribu kaummu, empat puluh ribu dari mereka adalah orang-orang jahat, dan enam puluh ribu dari mereka adalah orang-orang yang baik!”
Nabi Syu’aib heran dan bertanya : “Yang jahat memang pantas diazab tapi mengapa yang baik juga diazab?” Allah SwT menjawab : “Mereka tidak mencegah orang-orang yang berbuat maksiat dan tidak marah dengan kemarahan-Ku!” (Misykat al-Anwar 51)
Kebanyakan ulama dan agamawan pun hanya mau menganjurkan kebaikan tapi takut dan enggan melarang perbuatan-perbuatan buruk segelintir orang (para penguasa dan pengusaha). Mereka membiarkan kaum durjana berbuat semena-mena dan tiada mempedulikan nafsu angkara yang mereka lampiaskan di mana-mana!
Imam Ali as berkata, “Pelaku kezaliman, yang membantunya dan yang rela dengan perbuatan zalim tersebut, ketiganya bersekongkol dalam kezaliman!” (Ihqaaq al-Haq 12 : 432)
Kaum elit dan para konglomerat ini memang sedikit, jika dilihat dari kwantitasnya tetapi didukung oleh jumlah uang yang banyak (uang yang juga diperoleh dari merampok uang rakyat). Kadang hal inilah yang membuat beberapa ulama fasiq menjadi tergiur sehingga akhirnya bisu dan buta.
Mereka enggan membuka mulut dan enggan melarang kejahatan dan keserakahan yang sudah tak bisa ditolerir lagi. Mereka seperti kaum Musa yang melihat Qarun. “berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun!” (QS al-Qashash [28] ayat 79)
Mereka malah tergiur dengan harta Qarun – sang pengusaha – yang berlimpah ruah. Mereka mengidam-idamkan dalam hati mereka: “Andai aku juga punya harta seperti yang dimiliki Qarun. Kita bisa melihat sekarang banyak sekali ulama dan kaum intelek kita yang lebih senang berlomba-lomba memperbanyak harta dan memamerkan kekayaan mereka ketimbang memerhatikan hajat hidup umatnya!
Mereka berkeliling mengendarai mobil-mobil mewah sementara umatnya mengais kehidupan di antara belas kasihan orang lain. Mereka sibuk mengurus partai atau kelompok mereka namun melupakan kepentingan-kepentingan yang lebih luas. Teramat ironis memang, tapi inilah kenyataan yang terjadi di Indonesia! Inilah sebabnya maka bencana serta musibah terjadi tidak henti-hentinya, memakan korban nyawa manusia, bahkan ternak sekalipun!
Allah SwT berfirman, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka bermaksiat dan selalu melampaui batas, mereka satu sama lain tidak melarang perbuatan munkar yang mereka perbuat . Sesungguhynya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu!” (QS Al-Maidah [5] ayat : 78-79)
Yang sekarang muncul adalah saling tuduh dan menghujat antar kaum elit itu sendiri. Mereka saling salah-menyalahkan. Mereka melakukan kesalahan baru lagi yaitu enggan bercermin diri! Imam Ali karamallahu wajhah berkata, “Lalainya seseorang dari aib-aibnya adalah sebagian daripada dosa-dosa yang paling besar!” (Bihar al-Anwar 78 : 91)
SIAPA YANG BISA SELAMAT DARI BENCANA DAN SIKSA
Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, maka Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat (su’u) dan Kami timpakan kepada orang-orang zalim azab siksa yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik” (QS Al-A’raf [7] ayat: 165).
Beratnya persyaratan Nahi Munkar bukan berarti kita mesti berdiam diri. Kita harus bersatu padu, saling bahu membahu, berani berteriak kepada orang-orang durjana : “Mampus kalian bersama keserakahanmu!”. Berani bertindak dengan tidak memilih orang-orang munafik, busuk dan pengkhianat itu! Jangan terbius janji-janji dan akting mereka di depan publik! Namun kita tetap harus menjauhi tindakan anarkis, karena tindakan tanpa petunjuk para faqih yang kompeten justru menambah kerusakan di muka bumi ini!
Ingat! Jangan pilih dan percaya kepada orang-orang yang tidak memiliki masa lalu yang baik, kaum pendusta dan orang-orang bodoh. Sekali lagi, jangan pilih mereka! Imam al-Shadiq as berkata,”Hati-hatilah kamu dari bersahabat dengan orang yang dungu (al-ahmaq) dan pendusta. Karena si dungu bermaksud memberimu manfaat tetapi malah mendatangkan mudharat bagimu, dan ketika dia bermaksud mendekatkan (sesuatu atau seseorang) kepadamu, dia malah menjauhkannya darimu, dan menjauhkan darimu apa yang ingin didekatkannya. Sedangkan si pendusta, jika kamu mempercayainya, ia justru mengkhianatimu, dan jika kamu berbicara kepadanya, dia akan mendustakanmu, dan jika ia berbicara kepadamu, kamu mendustakannya…” (Bihar al-Anwar 74 : 193)
Imam Ali as berkata, “Kebenaran yang tidak terkoordinir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terkoordinir!”.
Perkataan Imam Ali as ini menyiratkan suatu perintah agar kita semua termasuk masyarakat Indonesia mesti bersatu padu, bersama-sama melawan kejahatan yang sudah terkoordinir secara rapi ini. Kita memerlukan suatu kesadaran bahwa kita satu sama lain wajib saling melindungi dan saling membantu tanpa harus dikotak-kotakan oleh agama, mazhab, ras, suku, dan teritorial.
Kesadaran berbangsa dan kebersamaan kemanusiaan ini mesti ditumbuhkan kembali dan dikuatkan dengan pemahaman agama kita masing-masing.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Leia Mais...
0

,?Sekadar Bencana Alam Ataukah Murka Allah? ,

Leia Mais...
0

APA ITU SABAR

Minggu, 16 Januari 2011.

Tergelitik membaca tulisan teman tentang apa itu kesabaran. Rasanya ingin jua aku menuangkan pikiran gilaku tentang kesabaran, tentang sebuah ungkapan syarat makna yang acap kali orang – orang berjubah putih itu ucapkan.
Aku pernah merumuskan 3 hal penting dalam hidup yang patut kita pelajari, tentunya berdasarkan pemikiran gilaku. Pertama ” ilmu sabar “, menjadi awal dan pegangan pertama dalam hidup untuk menggapai setiap anggan menjulang terbentang di depan mata. Kedua ” ilmu ikhlas “, tingkatan kedua yang menjadikan kita bersikap anggun terhadap setiap kegagalan. Ketiga ” ilmu pasrah “, tingkatan akhir yang akan mendekatkan kita pada kebahagiaan dunia yang paling nyata.
Kali ini aku akan membahas tentang ilmu sabar dalam koridor pemaknaan kegilaanku. ” Sabar nak, bulan depan ibu sudah punya uang untuk membelikanmu baju baru “, ucap seorang ibu tua yang menenangkan tingkah anaknya yang mulai brutal ingin dibelikan sepeda. Terlihatkah apa itu sabar ???? Kata orang, ibu itu begitu sabar menghadapi anaknya yang super duper nakal. Tapi apa maksud ibu itu menyuruh anaknya sabar ???? Menurutku ibu itu menyuruh anaknya menunggu dengan tenang, toh bulan depan apa yang ia inginkan dapat terpenuhi. Apa ini sabar ???? Sabar adalah menunggu dengan tenang. Benarkah ????
Pernah pula aku mendengar sebuah ceramah dari seorang pria berjubah putih, ” sebagai manusia yang beriman maka kita harus sabar menghadapi segala cobaan, cobaan ini adalah anugerah, yang dapat mendekatkan kita dengan-Nya “, terucap lirih penuh santun dari bibirnya. Pria itu menyuruh untuk sabar, tapi dia tak memberitahukan apa itu sabar. Dan, apa yang terjadi ???? Para pendengarnya mengangguk mematuhi apa yang dia katakan, bahkan saya sanksi kalau mereka paham benar apa itu sabar. Ternyata mereka menghadapi setiap cobaan dengan tenang, menunggu Tuhan memberikan pertolongan. Apa ini sabar ???? Sabar adalah menghadapi segala cobaan dengan tenang sembari menunggu pertolongan Tuhan. Benarkah ????
Begitu banyak kata sabar terucap dari setiap bibir insani dan aku tak yakin bahwa definisi sabar pada setiap mereka itu sama. Pada intinya mereka menganggap bahwa sabar ialah hal yang baik, hal yang suci. sabar begitu memiliki aroma pencitraan yang damai, santai, gemulai dalam pemaknaan setiap situasi. Sabar memiliki daya penahanan diri, pengekangan setiap nafsu, pembatas setiap keinginan berlebih. Pengartian koridor setiap keinginsegeraan menjadi damai, tenang dan lebih santun. Jadi, dalam dunia gilaku, laiknya itu keabstrakan sebuah kata syarat makna ” sabar “.
Agak tergelitik tatkala banyak orang tersudut menahan emosi mengucap kalimat, ” sabarku ada batasnya !!!! “. Apa benar bahwa orang itu tahu apa itu sabar ???? Kesabaran adalah perlindungan tindakan tak anggun yang tiada batas. Sabar pun memiliki ruang maha luas penangkal semua kejadian tak berkenan dan menekan. Ketika kesabaran itu ada batasnya, itu bukanlah sabar. Sabar terlalu luas untuk dibatasi. Sabar terlalu dalam untuk dipijak seonggok kebusukan perusak ketentraman. Dan sabar terlalu kokoh untuk dihancurkan bahkan untuk digoyahkan, sekalipun itu badai besar menerpa tepat di depannya.
Leia Mais...
0

Cara Mengobati Rakus dan Tamak

Kamis, 13 Januari 2011.
Ketahuilah bahwa obat ini terdiri dari tiga unsur: sabar, ilmu, dan amal. Secara keseluruhan terangkum dalam hal-hal berikut ini:
1. Ekonomis dalam kehidupan dan arif dalam membelanjakan harta.
2. Jika seseorang bisa mendapatkan kebutuhan yang mencukupinya, maka dia tidak perlu gusar memikirkan masa depan, yang bisa dibantu dengan membatasi harapan-harapan yang hendak dicapainya dan merasa yakin bahwa dia pasti akan mendapatkan rezeki dari Allah. Jika sebuah pintu rezeki tertutup baginya, sesungguhnya rezeki akan tetap menunggunya di pintu-pintu yang lain. Oleh karena itu hatinya tidak perlu merasa gusar.
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَآبَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقُهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَإيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-’Ankabut: 60)
3. Hendaklah dia mengetahui bahwa qana`ah itu adalah kemuliaan karena sudah merasa tercukupi, dan dalam kerakusan dan tamak itu ada kehinaan karena dengan kedua sifat tersebut, dia merasa tidak pernah cukup. Barangsiapa yang lebih mementingkan hawa nafsunya dibandingkan kemuliaan dirinya, berarti dia adalah orang yang lemah akalnya dan tipis imannya.
4. Memikirkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, orang-orang yang hina dan bodoh karena tenggelam dalam kenikmatan. Setelah itu hendaklah dia melihat kepada para nabi dan orang shalih, menyimak perkataan dan keadaan mereka, lalu menyuruh akalnya untuk memilih antara makhluk yang mulia di sisi Allah ataukah menyerupai penghuni dunia yang hina.
5. Dia harus mengerti bahwa menumpuk harta itu bisa menimbulkan dampak yang kurang baik. Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَأَنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.” (Hadits riwayat Muslim)
Hadits ini berlaku dalam urusan dunia. Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaklah setiap muslim berlomba-lomba untuk mencapai derajat kedudukan tertinggi.
Penopang urusan ini adalah sabar dan membatasi harapan serta menyadari bahwa sasaran kesabarannya di dunia hanya berlangsung tidak seberapa lama untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi, seperti orang sakit yang harus menunggu pahitnya obat saat menelannya, karena dia mengharapkan kesembuhan selama-lamanya.
(Dirangkum dari Terjemahan Mukhtashar Minjahul Qashidin (hlm.253-255), karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Maret 2004; dengan pengubahan seperlunya oleh redaksi 
Leia Mais...
0

Pembagian Sihir Menurut Ar-Razi rahimahullah


Abu ‘Abdillah Ar-Razi mengungkapkan bahwa macam-macam sihir itu ada delapan, yaitu:
  1. Sihir orang-orang Kildan dan Kisydan yang mereka adalah para penyembah tujuh bintang.
  2. Sihir orang-orang yang suka berilusi dan mempunyai jiwa yang kuat.
  3. Meminta bantuan kepada para jin yang bersemayam di bumi. Mereka ini terbagi menjadi dua bagian: jin mukmin dan jin kafir, yang tidak lain mereka (jin kafir tersebut –ed) adalah setan.
  4. Ilusi, hipnotis, dan sulap.
  5. Berbagai tindakan menakjubkan yang muncul dari hasil penyusunan alat-alat secara seimbang dan sesuai dengan ilmu rancang bangun, misalnya seorang (patung –ed) penunggang kuda yang memegang terompet, setiap berlalu satu jam, maka terompet itu akan berbunyi tanpa ada yang menyentuhnya. (Mengenai hal ini, Wahid bin ‘Abdissalam bin Baali memberi keterangan, “Berkenaan dengan hal tersebut perlu saya (penulis) katakan, ‘Sekarang ini, hal-hal tersebut sudah sangat biasa, apalagi setelah terjadi kemajuan ilmu pengetahuan yang menjadi sebab ditemukannya berbagai hal yang menakjubkan’”).
  6. Memakai bantuan dengan obat-obatan khusus, yakni yang terdapat pada makanan dan minyak.
  7. Ketergantungan hati.
  8. Usaha melakukan pergunjingan dan pendekatan diri dengan cara terselubung dan nyaris tidak terlihat. Dan hal ini sudah tersebar luas di kalangan masyarakat. (Tafsir Ar-Razi [II/231])
Ibnu Katsir mengatakan, “Ar-Razi telah memasukkan berbagai hal yang telah disebutkan sebagai bagian dari sihir karena terlalu halus untuk dilihat oleh pandangan mata, sebab menurut bahasa Arab, sihir adalah berarti sesuatu yang halus dan sebabnya tersembunyi.” (Tafsir Ibnu Katsir [I/147])
Diringkas dari buku Sihir dan Guna-Guna, karya Wahid bin ‘Abdissalam bin Baali (hlm. 51—53), penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Bogor
***
Leia Mais...


Dalam Tinjauan Syar'i

Diantara kematian yang diperingati secara massal oleh begitu banyak orang yaitu kematian St. Valentine yang diyakini terjadi pada tanggal 14 Februari. Ia dihukum mati karena menentang kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda pada waktu itu. Hari kematian itu kemudian diperingati oleh sebagai Valentine's Day (hari valentine), suatu hari dimana orang-orang menyatakan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang-orang yang diinginkannya. Dihari itu ada yang menyatakan perasaan kasih sayangnya kepada teman, guru, orangtua, kakak atau adik dan yang paling banyak ditemui adalah mereka yang menyatakan cintanya kepada pasangan atau kekasihnya. Dihari itu pula, para lelaki/perempuan yang ingin menyatakan cintanya mengirimkan kartu atau hadiah berupa coklat atau kado kepada orang yang dituju dengan kalimat be my valentine atau jadilah valentineku atau sama artinya jadilah kekasihku.

Benarkah semua itu merupakan kebaikan???

Sejarah Ringkas Valentine's Day

Ribuan literatur yang berupaya menggali sejarah awal hari valentine masih berbeda pendapat. Ada banyak versi ttg asal perayaan valentine ini. Yang paling populer adalah kisah Valentinus atau St. Valentine yang diyakini hidup pd masa Claudius II yang menemui ajal pada tanggal 14 feb 269 M, namun inipun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak mengandung silang pendapat adalah kalau kita menilik secara lebih jauh lagi kedalam tradisi Paganismu atau pemujaan dewa-dewi romawi kuno.

Waktu itu ada perayaan yang dikenal sebagai Lupercalia, didalamnya terdapat rangkaian upacara penyucian dimasa romawi kuno ( 13-18 feb) 2 hari pertama dipersembahkan utuk dewi cinta ( queen of veferise love) Juno Vebruata. Pada hari itu, para pemuda mengundi nama-nama gadis didalam kotak, lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan objek hiburan.

Pada 15 Feb, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut (mencambuk) orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena dianggap lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Ketika agama katolik memasuki Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa nasrani, antara lain : mengganti nama-nama gadis Paus dan Pastur. Diantara pendukungnya adalah Kaisar Constantinus dan Paus Gregorius I. Kemudian agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran nasrani, pada 496M Paus Glasius I menjadikan upacara romawi kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Velentine's Day untuk menghormati St. Valentine yang mati pada tanggal 14 feb tentang siapakah sesungguhnya St. Valentine ini - Seperti telah disinggung diatas - para sejarawan masih berbeda pendapat.

Pada saat ini, sekurang-kurangnya ada 3 nama Valentine yang meninggal pada tgl 14 feb. Diantaranya ialah kisah yang menceritakan bahwa Caisar Claudius II menganggap tentara bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Caisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, tetapi tindakan Caisar itu mendapat tantangan dari St. Valentine yang secara diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga diapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 feb 269M.

"Valentine's Day" Adalah perbuatan orang-orang Kafir

Saudaraku seiman, jelas sudah bahwa hari valentine berasal dari mitos dan legneda zaman Romawi yang seluruhnya bersumber dari pagnisme musyrik, penyembahan berhala, dan penghormatan kepada pastor. Tidak ada kaitannya dengan kasih sayang, bahkan hanya hubungan kepuasan seks dan nafsu birahi. Lalu mengapa sebagian orang menyambut hari Valentine dengan meriah???
Apa ini merupakan hari istimewa atau hanya ikut-ikutan saja tanpa tahu akar masalah dan muasalnya, dan mengekor pada kebudayaan barat. Bila kenyataannya demikian, maka sangat disayangkan banyak kaum remaja muslim putra dan puteri yang terkena penyakit ikut-ikutan semata dan terlena dengan hura-hura dan kemaksiatan serta mengikuti acara ritual agama lain.

Alloh berfirman:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya." (Q.S Al-Isro 17 & 36)

Perlu diketahui bahwasannya perayaan hari valentine itu tidak ada dalam syari'at islam dan sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh SAW dan orang-orang yang mulia lagi bertaqwa dari kalangan sahabat, tabi'in, dan ulama setelah mereka. Akan tetapi, perayaan hari valentine adalah salah satu makar orang-orang yahudi yang diselundupkan kepada umat islam supaya mereka umat islam mengadopsinya atau mengikutinya. Karena orang-orang Yahudi tidak senang sebelum orang islam mengikuti agama mereka.

Alloh berfirman:
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, "sesungguhnya petunjuk Alloh itulah petunjuk yang benar" (Q.S Al-Baqoroh (2), 120)

Dengan demikian, jelaslah bahwa bagi kita perayaan hari valentine adalah salah satu acara yang diakan oleh orang-orang kafir dan orang-orang bergelimang dosa dalam ranka bermaksiat, mengumbar syahwat dan memenuhi hawa nafsu belaka.

Hukum merayakan "Valentine's Day"

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam islam apabila orang yang diikuti berbeda keyakinan dan pemikiran dengan kaum muslim. Apalagi bila mengikuti dalam perkara aqidah, ibadah, syar'i, dan kebiasaan.

Ikut merayakan Valentine's Day sama saja membenarkan atas klaim (pengakuan) dogma dan ideologi Nasrani seperti Yesus sebagai anak Tuhan. Dalam kacamata Islam, Hal ini merupakan Syirik dan paling tidak sudah terjerumus kedalam dosa tasyabbuh atau menyerupai orang-orang kafir. Jauh-jauh hari Rosululloh SAW melarangnya.

Beliau bersabda:

"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut" (HR. Abu Dawud:4031, Ahmad:2/50, 92 dan dishokhihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil: 1269)

Ibnu Taimiyyah al-harroni mengatakan:
"Dan sungguh Imam Ahmad dan selainnya telah berhujjah dengan hadist ini tentang haramnya Tasyabbuh(Menyerupai) orang-orang kafir"
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka" (Q.S Al-Maidah (5);51)

Perayaan Valentine's Day adalah acara ritual agama lain. Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi barat maka akan menjadi perbuatan buruk dimata Islam.

Dampak Negatif merayakan "Valentine's Day"

Diantara para Ulama zaman sekarang yang telah menjelaskan dampak negatif Valentine's Day adalah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin.

1. Valentine's Day merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya dalam syari'at Islam.
2. Merayakannya dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara rendahan
3. Menjadi generasi penerus tradisi orang-orang kafir
4. Memperbanyak jumlah orang-orang kafir yang mengikuti agama mereka. Padahal dalam sholatnya orang muslim membaca ayat yang artinya:

"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bahkan (pula jalan) mereka yang sesat" (Q.S Al-Fatihah (1); 6-7)

Bagaimana mungkin ia memohon kepada Alloh agar ditunjukkan kapadanya jalan yang lurus/ jalan yang benar. Namun ia sendiri justru menempuh jalan yang sesat itu dengan sukarela dan senang hati. Na'udzubillah!!!

Walhasil, maka hendaklah kaum muslimin sekarang ini mengetahui dan berhati-hati terhadap propaganda yang diserukan oleh orang-orang kafir yang berusaha untuk menjauhkan orang islam dari ajaran Islamnya. Hal ini banyak kita saksikan di layar TV banyak sekali acara yang yang jauh dari Syar'i. Karena dunia Pertelevisian Indonesia Dikuasai oleh orang-orang kafir.

Tahun Baru Masehi

Hal serupa juga terjadi pada saat sambutan Tahun baru masehi. Banyak orang islam ikut-ikutan merayakannya dengan cara, berkunjung ketempat tertentu, lalu menyalakan kembang api dan begadang hingga dini hari. Hal ini serupa dengan perayaan Valentine's Day diatas. Yang hanya ikut-ikutan tanpa tahu hukumnya.

Tahun baru masehi adalah tahun barunya orang-orang Nasrani yang justru marak dirayakan oleh orang islam. Justru tahun baru Islam yaitu 1 Muharram, jarang yang mengetahui. Kalaupun tahu paling hanya sekedar tahu. Tahun baru islam yaitu tahun baru Hijriyah, hendaknya digunakan untuk Muhasabah diri, menghisab diri, mohon ampun pada Alloh atas dosa yang dilakukan tahun yang lalu dan berdoa agar diberikan kemantapan iman serta diperkuat ketaqwaaanya kepada Alloh SWT.
Renungkanlah hal dibawah ini:

1. Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dialah orang yang beruntung
2. Barang siapa hari ini sama dengan hari yang kemarin, maka dialah orang yang merugi
3. Barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dialah orang yang celaka

Kesimpulannya:

Janganlah umat Islam mengikuti tradisi dan kebiasaan orang kafir(non islam) dalam segala sesuatu terutama yang berkaitan dengan aqidah, kebiasaan, hukum, syi'ar, karena akan digolongkan kedalam golongan orang kafir walaupun ia masih memeluk islam.

    "Wallohua'lambissowab"
Leia Mais...
0

Kemurnian "CINTA" & Tingkatannya




Banyak orang berkata: "aku cinta padamu", dalam hatinya aku cinta wajahmu yang cantik jelita. "aku cinta padamu", dalam hatinya aku cinta uangmu, fasilitasmu dan yang sejenismu. Karena memang tidak sedikit manusia yang berprinsip bahwa di dunia ini tidak ada cinta yang murni dan sejati. Kehidupan di dunia ini penuh dengan permainan, drama, dan sandiwara.


Terhadap yang demikian, "kalau begitu anda adalah produksi atau hasil percintaan yang kotor antara ayah dan ibu anda". Mungkin jikalau anda mendapatkan ucapan seperti ini, anda tidak setuju dan bahkan marah. Mengapa demikian? sebab hati nurani (hati manusia yang masih bersinar atau bersih) mengakui bahwa cinta dan kasih sayang itu tidak dapat dibeli. Orang Inggris berkata: "You can buy sex, but you can not buy love". Artinya: Anda dapat membeli seks, tapi anda tidak dapat membeli cinta. Mengapa demikian? Karena cinta datangnya dari Sang Pemilik Cinta yaitu Alloh SWT.


Oleh karena itu, tidak ada cinta yang murni dan sejati, serta tidak ada cinta yang sesungguhnya tanpa Cinta kepada Alloh SWT. Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Benarkah demikian? mari kita lihat uraian berikut:

DEFINISI CINTA

Apakah pengertian cinta?
Cinta secara bahasa adalah suka sekali dan senang sekali.
Cinta secara istilah ialah rasa kasih sayang yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam untuk rela berkorban, tanpa mengaharap imbalan apapun, dan dari siapapun, kecuali imbalan yang datang dari Alloh SWT.

Boleh jadi seorang pemuda berkata pada seorang pemudi: "Sungguh mati aku cinta padamu, dan akupun tahu bahwa engkaupun sebenarnya cinta padaku. Oleh karena itu, mengapa kita tidak seperti orang lain yang bermalam panjang, jalan-jalan ketempat hiburan, bersenang-senang sampai larut malam. Dunia ini hanya milik berdua." Demikian, tidak sedikit pemuda dan pemudi akhir-akhir ini yang bertingkah laku seperti ini. Sepulang sekolah tidak langsung pulang, tetapi mereka janjian untuk ketemuan di suatu tempat untuk bersenang-senang.

Apakah hubungan dua muda-mudi yang seperti ini dapat disebut dengan cinta?
Jawabannya, TIDAK!!!, sebab hubungan mereka sebenarnya adalah hubungan Nafsu Birahi, bukan hubungan Cinta. Mengapa???, Sebab cinta yang sesungguhnya atau cinta murni, tidak mengharapkan imbalan apapun dan dari siapapun Kecuali datang dan diridhoi Alloh SWT.
Kisah muda-mudi yang bermalam panjang, dan bersantai-santai di hotel, atau dibawah pohon yang remang-remang itu biasanya bisa mengakibatkan timbulnya "Kerajinan Tangan" dan ini menodai cinta, bukan merawat dan menjaga cinta. Keadaan yang seperti ini menurut AL-QURAN harus dijauhi karena ini telah MENDEKATI ZINA.

Alloh SWT Menyatakan:
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan satu jalan yang buruk." (Q.S. Al-Isra, 17:32)

Memang cinta bukan tanpa sebab, karena cinta itu tidak buta. Cinta itu melek (melihat). Ada sebab dan Akibatnya. Oleh karena itu, Jika anda ingin memiliki cinta yang murni, tulus dan abadi dari seseorang, tentu anda memerlukan penyebab yang membuatnya demikian. Jika anda mencintai seseorang karena hal-hal yang bersifat duniawi, karena harta, wanita(seksualitas), tahta dan yang sejenisnya, tentu cinta anda kepadanya hanya sepanjang penyebabnya itu masih ada. Itulah sebabnya ada pepatah mengatakan: "Ada uang abang disayang, ga ada uang abang ditendang"

Pepatah di atas menggambarkan hati Zulmani (Hati manusia yang gelap), sedang hati Nurani ( hati manusia yang bersinar terang) menghendaki cinta murni dna abadi serta tulus dan ikhlas karena Alloh SWT.

Hakikat Cinta

Cinta murni dan abadi itu yang seperti apa sih? dan mengapa tidak ada cinta yang sesungguhnya, tulus dan ikhlas tanpa cinta kepada Alloh SWT? Berkaitan dengan hal ini Alloh berfirman:

"Katakanlah jika bapak-bapak, pembesar dan nenek moyang kamu, saudara-saudara kamu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta benda yang kamu cari, barang-barang dan perdagangan yang kamu takuti kerugiannya, serta rumah dan tempat tinggal yang kamu senangi lebih kamu Cintai dari pada Alloh dan Rosul-Nya serta Jihad(berjuang) dijalanNya, maka tunggulah saatnya sampai Alloh mendatangkan keputusan (azab)Nya, dan Alloh tidak menunjuki kaum yang fasik" (Q.S. At-Taubah; 9:24)

Tingkatan Cinta

1. Cinta kepada Alloh SWT
2. Cinta kepada Rosul
3. Cinta kepada Jihad fii sabilillah
4. Cinta kepada Manusia (orang tua dll)
5. Cinta kepada Harta, tahta dan yang sejenisnya

1. Cinta kepada Alloh SWT Mengapa cinta kepada Alloh merupakan tingkatan yang pertama? Karena Dialah Raja yang maha Raja penguasa alam semesta dan seisinya. Dialah yang menghidupkan manusia, Dialah yang mematikan manusia, Dialah yang mengurus seluruh kebutuhan manusia dan makhluk lainnya di alam semesta ini. Dialah Tuhan yang Patut disembah dan Agungkan.

    SABAR SAUDARAKU, INI BELUM SELESAI. MASIH BANYAK YANG BELUM DIMUAT. INSYA ALLOH AKAN DILANJUTKAN LAGI.
Leia Mais...
0

cheat

Selasa, 11 Januari 2011.
Leia Mais...
0

cheat

Leia Mais...
1

***PENYEBAB DATANGNYA BENCANA***

Minggu, 09 Januari 2011.
bencanaSaat ini kita sedang mengalami bencana yang tiada henti dan beragam. Dari mulai gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, gunung meletus, kebakaran hutan, dan lain sebagainya. Bencana ini datang silih berganti dari satu daerah ke daerah lain. Seakan daerah yang satu menunggu giliran daerah lainnya. Apakah rangkaian bencana ini hanya merupakan fenomena alam semata? tidakkah kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini?
Sebagai muslim yang yakin adanya KEKUATAN yang mengatur semua kejadian di semesta alam ini, hendaknya bisa mengambil banyak pelajaran, terlebih jika di kaitkan dengan ayat-ayat bencana dalam al-Quran. Fokusnya adalah apa saja yang menjadi pencetus datangnya bencana dan apa solusi untuk menghindari bencana tersebut.
Jika kita memahami ayat-ayat al-Quran yang terkait dengan bencana, kita bisa mengambil insight bahwasanya, “Sebuah kepastian, tidak ada bencana tanpa dosa”. Artinya, jika kita tertimpa bencana, mudah caranya untuk mengetahui kenapa bencana itu datang. Yakni, carilah dosa apa yang telah kita perbuat. Dosa tersebut bisa berupa dosa pribadi ataupun dosa kolektif (masal). Saat bencana datang, ia tidak hanya menimpa orang yang berbuat dosa (dholim), namun menimpa seluruh orang di negeri / kawasan  itu. Jadi, saat bencana datang, dipastikan di situ ada dosa. Dari mana kesimpulan ini diperoleh, jawabannya dari al-Quran.
“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. As Syuura: 30).
Al-Quran mengungkapkan istilah bencana dengan beragam kata dan disebut secara berulang, yakni musibah, bala atau fitnah. Untuk mengetahui lebih lanjut faktor-faktor apa saja yang menyebabkan bencana, mari merenungi ayat al-Quran QS Al-Fajr 1-14, QS Yunus 13, QS Al-Isra 16, dan An-Nahl 112.
QS Al-Fajr 6-14
6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? 7. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi 8. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, 9. dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah 10. dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak),11. yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,12. lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,13. karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab,14. sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.
QS Yunus 13
“Dan sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat zalim, padahal para rosul mereka telah datang membawa keterangan-keterangan (yang nyata), tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman. Demikian kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa”
QS Al-Isra 16
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”
QS Annahl 112
“Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tentram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Alloh, karena itu Alloh menampakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat”.
Berdasarkan penjelasan ayat-ayat di atas kita bisa mengambil pelajaran tentang penyebab datangnya bencana yakni sebagai berikut:
#1. Durhaka dan Berbuat Kerusakan
Dalam QS Al-Fajr 6-14, Al-Quran menceritakan kaum terdahulu yang pernah musnah di muka bumi karena ditimpakan bencana oleh Alloh atasnya. Yakni kaum ‘Ad, Tsamud dan Firaun. Mereka adalah kaum yang memiliki kekuatannya luar biasa, baik dari fisik maupun peradaban. Dan Alloh mencampakkan mereka dengan adzab-Nya dikarenakan mereka berbuat kedurhakaan dan kerusakan.
Dalam surat ini kita menemukan dua sifat sebagai penyebab datangnya bencana yakni Thogho (durhaka) dan Fasad (berbuat kerusakan). Arti durhaka adalah tidak peduli dengan aturan Alloh, mereka hidup semaunya. Hal yang diperintahkan ia tinggalkan, sebaliknya yang dilarang malah dikerjakan.
Sementara itu, Fasad (merusak), dapat diartikan merusak secara  fisik (menggunduli hutan, membuang sampah sembarangan, mencemari sungai dan laut dan lain sebagainya) maupun merusak secara non fisik (ekonomi, hukum, politik dan sosial).
#2. Berbuat Dholim
Faktor lain penyebab datangnya bencana sebagaimana tercantum dalam Dalam QS Yunus 13 adalah berbuat Zalim. Ada dua makna terkait dengan Zalim yakni berbuat syirik dan menganiaya (tidak adil). Contoh berbuat syirik adalah percaya atas kekuatan arwah leluhur, roro kidul, dan lain sebagainya, sementara contoh aniaya adalah membenarkan urusan yang salah, dan menyalahkan urusan yang benar.
#3. Mengingkari Nikmat, Hidup Mewah dan Berbuat Kedurhakaan.
Faktor ketiga penyebab datangnya bencana adalah mengingkari nikmat, hidup kaya dan berbuat durhaka. Ketiga sifat ini seakan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bagi orang yang bergelimang harta, biasanya pintu-pintu kemaksiatan semakin terbuka sehingga mudah melakukan kedurhakaan.
Demikian uraian tentang faktor-faktor penyebab datangnya bencana, semoga kita diberi kekuatan untuk mengindari sifat-sifat durhaka, merusak, zalim, mengingkari nikmat, serta hidup mewah yang bergelimang dosa. Amien…
“Dikutip dari pengajian malam Ahad,
Leia Mais...
2

***TERNYATA AKU SANG PENDUSTA AGAMA***


Saya ingin mengawali tulisan ini dengan kisah Rosululloh Saw dimana ketika Rosululloh hendak pergi kemasjid, dihadanglah Rosul oleh kafir quraisy, setelah itu beliau diludahi, dilempar kotoran sehingga mengenai tubuh beliau yang suci, itu bukan hanya satu atau dua kali, akan tetapi setiap hari beliau Rosululloh dihinakan seperti itu, akan tetapi pada suatu saat ketika ada hal yang ganjil, ketika beliau Rosululloh lewat seperti biasanya, seorang kafir quraisy itu tidak terlihat, sehingga membuat Rosululloh terheran "kemanakah saudaraku yang senantiasa melempari aku kotoran?" tanya Sang Terkasih kepada salah satu sahabat . "Maaf, ya Rosululloh, saya dengar kabar si fulan sekarang sakit keras, entah tidak tahu sakitnya karena apa?", akhirnya bergegaslah setelah melakukan jamaah sholat dimasjid, Rosululloh pun menjenguk kafir quraisy itu. Dimana pada saat itu si fulan terbujur tiada daya diatas ranjang yang mulai nampak kusam. Ketika itu beliau datang sambil membawa semangkok makanan. Sang pemilik rumah pun tersentak dan menangis tersedu sambil berkata "Yaa Rosul aku sering sekali melempari engkau dengan ludahan, kotoran dan sekarang engkau ke rumahku hanya untuk menjenguk dan membawa semangkok makanan seraya tidak ada dendam dan dengki di matamu, sedangkan tetangga dan kerabatku belum menjengukku sama sekali, Yaa Rosul sungguh mulia hatimu, aku tidak pernah menemukan sesosok manusia seperti engkau Yaa Rosul? Engkau adalah Rohmatil Lilalamin. Engkau benar adalah kekasih Tuhan, dan kali ini aku bersaksi "Tiada Tuhan Selain Alloh dan Engkau Muhammad Adalah Utusan Alloh".

Subhanalloh! Itulah contoh akhlaqul karimah yang diberikan beliau Rosululloh kepada umatnya, maka alangkah elok nan indah apabila ada sesosok orang seperti itu, walaupun dia di hina, dicaci, serta difitnah, akan tetapi hatinya selalu tenang tidak membalas, malah hinaan, cacian serta fitnaan yang menghunjam jiwanya, ia hadapi dengan aura kesabaran serta kelembutan.

Itulah muslim sejati, dia tidak akan pernah menghujat orang lain, dia selalu mengoreksi pribadi dirinya karena masih banyak kesalahan yang terpendam dan belum terurai yang menjadikan besok menjadi sebuah pertanggung jawaban di hadapan Alloh, dia selalu mendoakan saudaranya walaupun saudaranya bergelimang dengan kekufuran dan kekafiran, karena sebagai muslim sejati hatinya selalu sadar dan pandangannya selalu tembus dihadapan Sang Pencipta, karena semua itu adalah sebuah skenario yang harus dijalankan. Dia sekali-kali tidak melihat pernah melihat objek akan tetapi yang dia liat adalah subjek, karena dibalik itu semua dialah Sang Penggerak Makhluk, Sang Penguasa Sejati. Itulah Tuhan Sang Pencipta Alam!.

Tapi sungguh ironis, bicara tentang Tuhan akan tetapi hati kita buta dengan Tuhan, bicara tentang agama akan tetapi masih menyakiti orang lain, bicara tentang perjuangan masih ada yang merasa ungul, bicara tentang kesucian akan tetapi hati kita busuk penuh dengan ke AKU an! Awas sekali lagi bendera "AKU" berkibar, iblispun akan menertawakan kita!

Ingatlah wahai saudaraku, islam sendiri adalah sebuah keselamatan, sebuah kedamain, sebuah ketentraman, akan tetapi sudahkah lidah kita selamat sehingga tidak menfitnah orang lain lebih-lebih teman seperjuangan? Sudahkah tingkah laku kita selamat sehingga tidak menyakiti orang lain? Sudahkan akhlaqul karimah kita selamat sehingga menimbulkan sebuah kedamaian dan ketertraman diantara sesama? Atau malah sebaliknya dengan prilaku kita malah membuat sebuah perpecahan dan permusuhan diantara sesama umat masyarakat?

Tolong koreksi kedalam jangan melihat orang lain!

Sungguh naif, apabila saya tidak mengkoreksi dan menghakimi diri sendiri, ternyata saya adalah sang pendusta agama yang berkedok dengan kemuliaan. Jangan anggap ketika saya menghadirkan tulisan ini saya adalah orang mulia, tidak! Ketika pembaca tahu tentang pribadi saya mungkin akan muak, dan meninggalkan tulisan ini, dimana saya adalah sampah yang telah mengotori perjuangan agama. Yang membuat dunia menjadi kacau, yang membuat islam menjadi sumber segala fitnah, yang menjadikan islam menjadi hujatan, sebab karena sayalah islam tidak bersatu, saling benar dan menang sendiri. saya hanya bisa berucap akan tetapi tidak bisa mengetrapkan. Pembohong besar !

Al-Qur'an surat Ash-Shaf ayat 3

"amatlah besar kemurkaan disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat."

(Ya Alloh Sucikanlah rohku, bersihkanlah hatiku, Sucikanlah roh umat suluruh jagat, bersihkanlah juga hati umat seluruh jagat. Terlalu hina dan kotor diri ini sehingga aku buta dengan Engkau, Yaa Alloh Yaa Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa hambamu, dosa teman-temanku, dosa umat masyarakat jamial alamin, sebab karena akulah dunia menjadi kacau, sebab karena akulah, islam menjadi sumber segala fitnah, sebab karena akulah islam menjadi hujatan, sebab karena akulah islam tidak bersatu, saling benar dan menang sendiri. Ya Rohman Ya Rohim Engkau Maha Tahu, aku hanya manusia lemah, hina dan tiada daya, perkenankan doa kami Yaa Alloh, matikan aku dalam ketiadaanMu, sehingga Engkau perkenankan untuk senantiasa kembali kepada KesucianMu.)

Maka lebih mulia kita diam dan merenungi kekurangan diri sendiri daripada membalas cacian, hinaan, serta fitnaan orang lain karena itu semua adalah tangga penguji sebagai kemuliaan yang terselubung. Serta tiada tempat untuk marah ketika kita dihina, sebab Alloh masih banyak menutupi aib kebusukan didalam hati kita terhadap sesama manusia. Dan semulia-mulia orang adalah orang yang bisa mengoreksi diri, lebih baik kita dicaci dari pada mencaci orang lain, lebih baik kita dihina daripada kita menghina orang lain, lebih baik kita disakiti daripada kita menyakiti orang lain, karena tidak ada orang yang dimuliakan sebelum dia diuji, tidak akan ada orang yang akan memiliki derajat yang tinggi sebelum dia dicaci, dihina, serta difitnah sehingga menghujam jiwanya sampai benar-benar kokoh seperti batu karang tiada bergeming ketika ombak menghantam.

Ingat janganlah berselimut dengan kepura-puraan, jujurlah pada diri sendiri! pendusta agama ataukah kita adalah kekasih Tuhan?
Leia Mais...
0

***TERNYATA AKU SANG PENDUSTA AGAMA***

 

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan kisah Rosululloh Saw dimana ketika Rosululloh hendak pergi kemasjid, dihadanglah Rosul oleh kafir quraisy, setelah itu beliau diludahi, dilempar kotoran sehingga mengenai tubuh beliau yang suci, itu bukan hanya satu atau dua kali, akan tetapi setiap hari beliau Rosululloh dihinakan seperti itu, akan tetapi pada suatu saat ketika ada hal yang ganjil, ketika beliau Rosululloh lewat seperti biasanya, seorang kafir quraisy itu tidak terlihat, sehingga membuat Rosululloh terheran "kemanakah saudaraku yang senantiasa melempari aku kotoran?" tanya Sang Terkasih kepada salah satu sahabat . "Maaf, ya Rosululloh, saya dengar kabar si fulan sekarang sakit keras, entah tidak tahu sakitnya karena apa?", akhirnya bergegaslah setelah melakukan jamaah sholat dimasjid, Rosululloh pun menjenguk kafir quraisy itu. Dimana pada saat itu si fulan terbujur tiada daya diatas ranjang yang mulai nampak kusam. Ketika itu beliau datang sambil membawa semangkok makanan. Sang pemilik rumah pun tersentak dan menangis tersedu sambil berkata "Yaa Rosul aku sering sekali melempari engkau dengan ludahan, kotoran dan sekarang engkau ke rumahku hanya untuk menjenguk dan membawa semangkok makanan seraya tidak ada dendam dan dengki di matamu, sedangkan tetangga dan kerabatku belum menjengukku sama sekali, Yaa Rosul sungguh mulia hatimu, aku tidak pernah menemukan sesosok manusia seperti engkau Yaa Rosul? Engkau adalah Rohmatil Lilalamin. Engkau benar adalah kekasih Tuhan, dan kali ini aku bersaksi "Tiada Tuhan Selain Alloh dan Engkau Muhammad Adalah Utusan Alloh".

Subhanalloh! Itulah contoh akhlaqul karimah yang diberikan beliau Rosululloh kepada umatnya, maka alangkah elok nan indah apabila ada sesosok orang seperti itu, walaupun dia di hina, dicaci, serta difitnah, akan tetapi hatinya selalu tenang tidak membalas, malah hinaan, cacian serta fitnaan yang menghunjam jiwanya, ia hadapi dengan aura kesabaran serta kelembutan.

Itulah muslim sejati, dia tidak akan pernah menghujat orang lain, dia selalu mengoreksi pribadi dirinya karena masih banyak kesalahan yang terpendam dan belum terurai yang menjadikan besok menjadi sebuah pertanggung jawaban di hadapan Alloh, dia selalu mendoakan saudaranya walaupun saudaranya bergelimang dengan kekufuran dan kekafiran, karena sebagai muslim sejati hatinya selalu sadar dan pandangannya selalu tembus dihadapan Sang Pencipta, karena semua itu adalah sebuah skenario yang harus dijalankan. Dia sekali-kali tidak melihat pernah melihat objek akan tetapi yang dia liat adalah subjek, karena dibalik itu semua dialah Sang Penggerak Makhluk, Sang Penguasa Sejati. Itulah Tuhan Sang Pencipta Alam!.

Tapi sungguh ironis, bicara tentang Tuhan akan tetapi hati kita buta dengan Tuhan, bicara tentang agama akan tetapi masih menyakiti orang lain, bicara tentang perjuangan masih ada yang merasa ungul, bicara tentang kesucian akan tetapi hati kita busuk penuh dengan ke AKU an! Awas sekali lagi bendera "AKU" berkibar, iblispun akan menertawakan kita!

Ingatlah wahai saudaraku, islam sendiri adalah sebuah keselamatan, sebuah kedamain, sebuah ketentraman, akan tetapi sudahkah lidah kita selamat sehingga tidak menfitnah orang lain lebih-lebih teman seperjuangan? Sudahkah tingkah laku kita selamat sehingga tidak menyakiti orang lain? Sudahkan akhlaqul karimah kita selamat sehingga menimbulkan sebuah kedamaian dan ketertraman diantara sesama? Atau malah sebaliknya dengan prilaku kita malah membuat sebuah perpecahan dan permusuhan diantara sesama umat masyarakat?

Tolong koreksi kedalam jangan melihat orang lain!

Sungguh naif, apabila saya tidak mengkoreksi dan menghakimi diri sendiri, ternyata saya adalah sang pendusta agama yang berkedok dengan kemuliaan. Jangan anggap ketika saya menghadirkan tulisan ini saya adalah orang mulia, tidak! Ketika pembaca tahu tentang pribadi saya mungkin akan muak, dan meninggalkan tulisan ini, dimana saya adalah sampah yang telah mengotori perjuangan agama. Yang membuat dunia menjadi kacau, yang membuat islam menjadi sumber segala fitnah, yang menjadikan islam menjadi hujatan, sebab karena sayalah islam tidak bersatu, saling benar dan menang sendiri. saya hanya bisa berucap akan tetapi tidak bisa mengetrapkan. Pembohong besar !

Al-Qur'an surat Ash-Shaf ayat 3

"amatlah besar kemurkaan disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat."

(Ya Alloh Sucikanlah rohku, bersihkanlah hatiku, Sucikanlah roh umat suluruh jagat, bersihkanlah juga hati umat seluruh jagat. Terlalu hina dan kotor diri ini sehingga aku buta dengan Engkau, Yaa Alloh Yaa Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa hambamu, dosa teman-temanku, dosa umat masyarakat jamial alamin, sebab karena akulah dunia menjadi kacau, sebab karena akulah, islam menjadi sumber segala fitnah, sebab karena akulah islam menjadi hujatan, sebab karena akulah islam tidak bersatu, saling benar dan menang sendiri. Ya Rohman Ya Rohim Engkau Maha Tahu, aku hanya manusia lemah, hina dan tiada daya, perkenankan doa kami Yaa Alloh, matikan aku dalam ketiadaanMu, sehingga Engkau perkenankan untuk senantiasa kembali kepada KesucianMu.)

Maka lebih mulia kita diam dan merenungi kekurangan diri sendiri daripada membalas cacian, hinaan, serta fitnaan orang lain karena itu semua adalah tangga penguji sebagai kemuliaan yang terselubung. Serta tiada tempat untuk marah ketika kita dihina, sebab Alloh masih banyak menutupi aib kebusukan didalam hati kita terhadap sesama manusia. Dan semulia-mulia orang adalah orang yang bisa mengoreksi diri, lebih baik kita dicaci dari pada mencaci orang lain, lebih baik kita dihina daripada kita menghina orang lain, lebih baik kita disakiti daripada kita menyakiti orang lain, karena tidak ada orang yang dimuliakan sebelum dia diuji, tidak akan ada orang yang akan memiliki derajat yang tinggi sebelum dia dicaci, dihina, serta difitnah sehingga menghujam jiwanya sampai benar-benar kokoh seperti batu karang tiada bergeming ketika ombak menghantam.

Ingat janganlah berselimut dengan kepura-puraan, jujurlah pada diri sendiri! pendusta agama ataukah kita adalah kekasih Tuhan?
Leia Mais...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

SMS GRATIS

Make Widget
 
MINAK JINGGO © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |